Aliansi Penulis Islam Ideologis

Pantaskah, Kita Tetap Berdiam Diri Dari Perjuangan Ini ?

Posted by: apiideologi on: November 14, 2009

Seorang missionaris Henry Martyn (18 February 1781 – 16 October 1812) mengatakan; “Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta.” Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.”

Umat Islam memang terlalu kuat untuk diserang dengan kekuatan senjata. Karena umat Islam memiliki satu senjata ampuh yang tidak dimiliki umat agama lain, yaitu semangat jihad dan mati syahid. Oleh karena itu stategi yang diterapkan mereka untuk menghancukan Islam tidak lagi dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan kekuatan logika dan kata-kata. Baca entri selengkapnya »

Menyemangati Diri !

Posted by: apiideologi on: November 14, 2009

Ditulisan singkat ini aku ingin berujar tentang pengalaman, kisah, nasehat atau mungkin curhat dari manusia-manusia dahsyat yang diluar perkiraan. Ternyata banyak menebar energi hitam, alih-alih menguatkan tapi justru aktivitas itu semakin memiriskan, melemahkan bahkan mengimpotenkan energi muda yang meluap, meledak dan siap merontokkan benteng-benteng kekufuran yang dilindungi, dibungkus, dijaga dan dikuatkan oleh beragam ide dan pemahaman busuk yang sengaja diemban dan dijajahkan. Baca entri selengkapnya »

Mendulang Energi ; Menulis dan Bicara dengan Hati

Posted by: apiideologi on: Oktober 12, 2009

Ditulisan ini ada sebuah sisi yang ingin saya bagi. Untuk banyak orang dan saya satu diantaranya. Menulis tak ubahnya seperti bicara. Terkadang pemibicaraan itu mengenakkan tak jarang pula menjemukkan. Pembicaraan yang bagi saya asyik, menarik dan layak, belum tentu sesuai dengan keinginan mereka di sekitar saya. Bisa jadi mereka memiliki sikap sebaliknya. Ada kalanya seorang penulis harus memiliki “toleransi” dengan tulisannya, sehingga dia berupaya mengemas sedemikian rupa agar tulisan yang disajikannya mampu dinikmati. Untuk hal itu penulis menyisipkan bumbu-bumbu (manis, asem, pahit dan kalat) sebagai penyedap tulisannya. Jujur, saya juga sering melakukan demikian.
Baca entri selengkapnya »

ARE YOU A MOESLEM ???… LET’S THINK…

Posted by: apiideologi on: Oktober 12, 2009

Gempa di Sumatra dan sekitarnya saat ini masih menjadi Headline News yang diberitakan oleh berbagai mediamasa, baik cetak maupun elektronik. Gempa tersebut terjadi pada pukul:
Gempa ke-1 : pada jam 17: 16, gempa ke-2, 17: 58, gempa ke-3, 08: 52 (www.google.com/gempa_sumatra)
Now..open mapping of your life (Al-Quran), lalu baca dan pikirkan surat ke 17: 16, 17: 58, 08: 52 yang terdapat di dalam petunjuk hidup anda…
• Surah ke-17:16 (Bani israil: 16) “Dan jika kami hendak hendak membinasakan suatu negri, maka kami hendak memerintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negri itu,(supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan(ketentuan Allah), kemudian kami menghancurkan negri itu sehancur-hancurnya.”
• Surah ke 17: 58 (Bani israil: 58) “ Tak ada suatu negripun (yang durhaka penduduknya) melainkan kami membinasakannya sebelum hari kiamat/ kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras, yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab”
• Surah ke 08 : 52 (Al-Anfal ,8: 52 ) “(keadaan mereka) serupa dengan keadaan firaun dan pengikut-pengikut serta orang-orang yang sebelumnya . Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka di sebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah maha kuat lagi amat keras siksaan_Nya. Baca entri selengkapnya »

Menulis Untuk Melawan

Posted by: apiideologi on: September 27, 2009

Dimanapun, kapanpun, tentang apapun, dengan fasilitas apapun, dalam suasana hati yang bagaimanapun, anda bisa menuangkan ide, merangkai kata demi kata, menyusun kalimat penuh makna, mengasah dan menajamkannya sehingga menjadi senjata yang paling menakutkan, mematikan dan beracun. Maka tunggu apa lagi anak muda, ayo menulislah !
Kita sering terkesima dengan hebatnya tulisan cerpenis, novelis, script writer, dan penulis-penulis yang mengusung ide-ide sarkas, vandal,jorok wa porno, puitis, humanis, realis, bahkan ideologis. Setelah membacanya, tak jarang kita menangis, merenung, birahi, bertanya, menginstrosfeksi diri, marah, benci, tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal, bahkan tak jarang sebuah tulisan mampu menjadi alat untuk membangkitkan militansi, membuat orang lalim jadi alim, membuat orang alim jadi dzalim. Membuat berani para penakut, membuat kuat manusia lemah, membuat romantis para pecinta, menciutkan nyali musuh, membuat berang penguasa korup dan tiran, tulisan mampu menyemai harapan bagi jiwa-jiwa hampa yang dijajah oleh ketidakadilan, tulisan juga mampu menunjukkan letak keunggulan sebuah kemenangan peradaban, keunggulan sistem kehidupan berketuhanan bernama Syari’ah Islam dalam bingkai Khilafah Islam ! Baca entri selengkapnya »

Kecil Tapi Nyaring

Posted by: apiideologi on: September 15, 2009

Pernah dengar komentar salah seorang tokoh yang menanggapi para pejuang penegak syariah, yang menyatakan “ormas yang ingin menegakkan syariah itu kecil tapi bersuara nyaring”?. Nah, kita akan bahas komentar ini hubungannya dengan aktivitas penguasaan opini publik yang dilakukan para ormas kecil, tapi bersuara nyaring tadi.

Sebuah fakta di era informasi dan komunikasi, telah menjadikan dunia tak lebih lebar dari daun kelor. Ruang dan waktu dapat seolah dapat dimampatkan dengan kecanggihan teknologi terkini. Siapa saja yang bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, maka akan semakin besar kemungkinan menguasai dunia. sebagaimana ungkapan, siapa yang menguasai informasi maka dialah yang akan menguasai dunia.

Sebagai contoh, Bangsa Yahudi yang kecil, tapi kini menguasai informasi dunia. sehingga merekalah yang banyak menentukan pemikiran, budaya dan aturan di dunia. Berbagai konspirasi atau rekayasa fakta dan pemaknaan mudah dilakukan, terutama dalam upaya menyudutkan dan menghancurkan umat Islam.

Atas dasar fakta itu, kita berharap banyak dari umat ini menyadari dan terus belajar dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi terkini untuk dakwah. Penggunaan teknologi ini sebagai upaya perlawanan kita atas permusuhan yang mereka lakukan kepada umat Islam. Oleh karena itu, setiap aktivis dakwah harus saling bersinergi untuk mempercepat dan memperbesar aktivitas dakwah. Bagi yang sudah bisa, tak keberatan memberikan bimbingan kepada yang belum bisa. Bagi yang memiliki kemampuan dan kemudahan, bisa berbagi dengan yang masih kesulitan dalam menjalankan aktivitas dakwah ini. Kita tidak boleh ketinggalan dalam aktivitas dakwah ini apapun peranan kita, walaupun hanya ikut menyebarkan setiap informasi dakwah atau memberikan sebagian dana dakwah bagi yang bisa menjalankkannya dengan baik.

Alangkah baiknya, jika sebagian besar aktivis dakwah juga mampu menuangkan pemikirannya dalam tulisan. Ini dikarenakan banyak media informasi dan komunikasi didominasi informasi dalam bentuk tulisan. Tulisan inilah yang dihitung sebagai amunisi-amunisi yang siap menyebar dan membunuh setiap pemikiran kufur. Semakin banyak tulisan yang dibuat, maka akan semakin besar kemungkinannya mendominasi media informasi dunia.

Bila kini yang mampu menulis sebagian saja, sudah dibilang nyaring, apalagi bila mayoritas aktivisnya mampu menyampaikan secara lisan sekaligus tulisan dalam berbagai media komunikasi terkini?. Jika dilakukan secara terorganisir sesuai dengan perencanaan yang matang dan dijalankan secara serius. Sungguh, aktivitas penguasaan opini publik ini akan memberikan dampak yang sangat nyata dalam mewujudkan perubahan menuju kehidupan Islam.

Kalau demikian, tunggu apalagi?, mari kita tunjukkan peranan kita dalam dakwah ini. Terus belajar menggunakan teknologi informasi dan komunikasi serta tak putus asa dalam belajar menulis. Agar suara Islam ideologis semakin nyaring dan umat Islam lainnya bisa bersama-sama kita dalam barisan untuk menegakkan syariat Islam di bumi Allah ini.

Menulis, Menyempurnakan Kebangkitan Berfikir

Posted by: apiideologi on: September 2, 2009

Kebangkitan manusia ditentukan oleh pemikirannya. Pemikiran tentang alam semesta, manusia dan hidup serta hubungannya dengan sesuatu sebelum dan sesudahnya. Pemikiran yang menyeluruh sekaligus mendalam inilah yang akan menghasilkan sebuah ide dasar kehidupan yang disebut ideologi.

Manusia ideologis, tak sekedar hidup tapi menyadiri harus menyebarkan dan memperjuangkan ideologi yang dia yakini. Apapun dilakukan untuk mencapai keberhasilan ideologinya, termasuk menulis. Menulis menjadi bagian perjuangan mereka, banyak pejuang ideologis mampu menuliskan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai artikel atau buku. Mereka mampu membangkitkan ideologi Islam umat sekaligus mewariskan ruh perjuangannya.

Menulis bagi muslim ideologis berarti mengkristalkan pemikiran dan memperluas penyebarannya. Menulis juga berarti meningkatkan penguasaan berbagai realitas dan tsaqofah aktivis dakwah. Meningkatkan kredibilitas dan kapabilitas intelektual penulisnya. Kebangkitan berfikir akan lebih sempurna bila diikuti kebangkitan menulis para pejuang Islam Ideologis.

Sejarah umat Islam dengan berbagai kemajuan dunia tulis-menulisnya  menjadi sebuah bukti keunggulan peradaban Islam atas peradaban lainnya. Banyak sejarawan menulis keunggulan itu, baik muslim maupun non muslim. Di era itulah lahir banyak perubahan yang spektakuler dari rahim Islam. Kemajuan di bidang pemikiran, hukum, ilmu pengetahuan dan teknologi baru. Karya-karya para Imam Malik, Syafii, Ahmad dan Hanafi, maupun Ibn Rusyd, Ibn Sina, Al-Ghazali, Al-Farabi, Al-Hawarizmi, Al-Kindi, Ibn Khaldun, dan pemikir-pemikir besar Islam lainnya menghiasi perkembangan peradaban yang spektakuler itu.

Pada kala itu Barat tengah tertidur lelap dalam buaian teosentrisme dan alam pikiran yang jumud, bahkan gelap gulita. Dalam kehidupan publik, sejarawan mencatat bahwa ketika London gelap gulita di malam hari dan di Prancis becek di waktu hujan, di Cordoba dan Baghdad jalan-jalannya mulus dan di malam hari terang benderang. Koleksi buku seorang ulama di Baghdad mencapai 400 ribu judul, sementara isi perpustakaan raja Prancis hanya 400 judul buku.

Bagaimana dengan sekarang? kondisi di atas justru terbalik. Di negara-negara Eropa dan Amerika memiliki bangunan-bangunan yang megah, dan perpustakaan-perpustakaan terbaik yang menghimpun buku-buku dari semua negara. Sedangkan di negeri-negeri Islam justru mengharap bisa belajar dari mereka baik ilmu pengetahuan dan teknologi, tak ketinggalan ideologi sekulerismenya pun diyakini. Ini sungguh ironis, satu-satunya umat yang memiliki kitab suci paling sempurna justru meminta orang kafir untuk mengajarinya tentang keimanan dan Islam.

Agar tidak terkecoh dengan kebangkitan yang sekedar materi dan jumlah  intelektual sekuler amupun IPTEK saja, maka pemahaman ideologi Islam harus ditanamkan kepada umat. Banyak cara yang bisa ditempuh, salah satunya adalah menulis pemikiran-pemikiran Islam ideologis dan menyebarkan ke semua orang.

Tulisan Islam ideologis yang sistematis mampu menandingi argumentasi intelektual sekuler atau liberal yang bergelar doktor sekalipun. Yakinlah, sudah banyak buktinya, tinggal kita sendiri yang harus terus membaca dan mengkaji berbagai pemikiran terkini.

Bila kita menyadari akan pentingnya menulis dalam menyempurnakan kebangkitan berfikir, sekaligus sebagai serangan yang membunuh setiap pemikiran ideologi lain. Maka, menulislah untuk membangkitkan umat dengan dasar ideologi Islam kita. Tunggu apalagi, ayo menulis yang ideologis.

Saat Memulai Menulis

Posted by: apiideologi on: Agustus 18, 2009

Setelah Agar Menulis terasa mudah, maka kita masuk pada topik “Saat Memulai Menulis”. Ada beberapa tips yang bisa dilakukan;

1. Mencermati berita dan tentukan topik

Hampir setiap orang tergantung pada berita, apa yang disajikan dalam berita menjadi bahan yang dipikirkan atau yang dikomunikasikan dengan yang lain. Karena kita akan menulis, berarti kita juga “memproses” dan mengkomunikasikan berita terhadap yang lain, maka tulislah topik yang sesuai berita terkini dan paling difahami.

2. Menentukan sudut pandang “angle” tulisan

Banyak topik, namun setiap penulis memiliki sudut pandangan sendiri. Cobalah pilih yang menarik untuk disorot dan dibahas lebih fokus dan mendalam. Ini menjadi ciri tersendiri bagi penulis, selain gaya penulisannya.

3. Menulis kerangka tulisan atau outline

Agar tidak bingung, kemana tulisan kita menuju? maka buatlah kerangka tulisan atau outline (coretan hubungan pokok-pokok pikiran). Semakin jelas kerangka tulisannya, semakin jelas juga tulisan kita.

4. Mulai menulis

Tulislah apa yang sudah kita buat kerangkanya. Silakan tulis judulnya dulu atau menuangkan apa yang ada dalam kerangka dulu, baru setelah selesai diberi judul. Semua terserah kita, yang mana paling cocok bagi kita. Ada yang merasa perlu menulis judulnya dulu, ada juga yang sebaliknya. Pilih judul yang unik sekaligus mewakili isi tulisan kita.

Ingat* jangan terjebak pada kata atau kalimat pertama harus tepat dan sempurna. Tapi tulis saja semua, ada waktunya sendiri untuk menilai dan memperbaiki.

5. Terus menulis

Tidak ada yang paling penting dalam aktivitas menulis, selain terus menulis. Ini selain membuat “saluran” pikiran menuju tulisan semakin besar, juga “arus pemikiran” kita semakin lancar tertuang dalam tulisan. Orang yang menulis, akan mencoba terus mencari apa yang perlu ditambahkan, diperkaya, ditajamkan atau yang lain. Bila, kondisi ini terjadi pada kita, sesungguhnya kita pada kondisi yang paling siap untuk menjadi penulis.

6. Baca dan perbaiki

Kini, saatnya membaca dan memperbaiki apa yang sudah kita hasilkan. Kuncinya “perbaiki” bukan “membunuh” ide kita. Terkadang kita temukan ide atau kalimat kurang cocok, tidak tepat dengan isi tulisan. Bila kalimat tersebut bisa kita gunakan pada topik lain, maka “cut” potonglah dan tempatkan pada halaman baru. Barang kali ke depan kita menemukan tempat yang cocok baginya.

Lanjutkan memperbaiki runtutan argumentasi maupun tata bahasanya, agar mudah difahami pembaca. Ini butuh kejelian, bila ada teman, istri, suami bahkan anak silakan diminta membacanya. Ini seolah tes bagi tulisan kita, mudah difahami atau tidak?. Sekaligus memposisikan dia sebagai ‘editor’ dalam perbaikan tulisan kita. Karena kesalahan sering terjadi yang tidak terlihat mata kita, ternyata ditemukan oleh pembaca. Setelah itu perbaiki dan kirimkan ke media atau di blog pribadi kita.

Bila tidak dimuat media atau tidak punya blog pribadi, kirim saja ke blog APII, www.apiideologi.wordpress.com atau blog Pinterpol (pinter politik), www.pinterpol.wordpress.com. Biar bisa dikomentari dan memotivasi yang lain untuk berlomba-lomba dalam menulis. Jadi, kami TUNGGU KARYANYA YA ……

Agar Menulis Terasa Mudah

Posted by: apiideologi on: Agustus 18, 2009

1. Niatkanlah, menulis bagian dari dakwah

Niat, sangatlah penting dalam setiap aktivitas, termasuk menulis. Bila sudah niat, berarti sudah dicatat sebagai amal baik dan insya’Allah akan dimudahkan Allah dalam mewujudkannya. Bukankah bila kita sudah niat, aktivitas yang akan kita lakukan terasa lebih mudah ?. itulah kehebatan niat bagi setiap muslim, maka jangan pernah tinggalkan niat dakwah dalam menulis.

2. Mulailah dari yang sudah kita ketahui dan senangi

Apapun yang kita lakukan, bila dimulai dari yang kita ketahui apalagi yang kita senangi, maka aktivitas tersebut terasa sangat ringan. Begitu juga menulis, akan terasa mudah bila dimulai dari yang kita ketahui, biasa dipikirkan ataupun kita senangi.

3. Tulislah yang mudah dan ringan

Setelah memulai dari yang sudah kita ketahui dan senangi, maka tulislah yang mudah dan ringan saja terlebih dahulu. Cobalah menulis esai atau opini dengan tema yang sudah dikuasai bahkan hapal diluar kepala. Tidak perlu langsung ingin menulis buku ataupun yang lebih rumit.

4. Buatlah kerangka tulisan

Kerangka tulisan ini sangat membantu kita yang sedang memulai atau yang tidak biasa berfikir sistematis. Kerangka ini akan menjadi acuan tulisan, mulai latar belakang, isi dan akhirnya. Namun, bagi anda yang biasa menulis dan berfikir sistematis, kerangka ini terasa sudah ada dalam otak, kita tinggal menuangkannya saja.

5. Jauhkan berfikir aturan penulisan yang ribet dan target terlalu tinggi

Terkadang sebelum menulis, kita membanyangkan bila tulisan itu harus begini, dan begitu. Akhirnya, kita merasa sendiri kalau tidak akan mampu memenuhinya dan pada akhirnya tidak jadi menulis. Ini sering menggagalkan penulis pemula untuk memulai menulis, maka jauhkanlah berfikir tersebut.

6. Sadarilah kita masih belajar

Ini sangat penting, agar kita tidak putus disaat mendapati tulisan kita ternyata masih kurang baik. Bahkan kita akan mengalami kebuntuan dalam penulisan dan terasa teramat sulit. Anggaplah semua itu sebagai tahapan belajar, yang harus kita lalui sebagimana penulis handal manapun telah mengalaminya. Maka dari itu, kita harus terus belajar, belajar dan perbaiki. Insya’Allah, suatu saat tulisan kita akan semakin baik.

7. Cari teman atau komunitas penulis

Ini penting, agar bisa terus berkarya dan mendapatkan berbagai solusi, baik teknik penulisan atau materi-materi yang kita tulis. Oleh karena itu, gabunglah dalam Aliansi Penulis Islam Ideologis (APII). Oke.

Menyulap Komentar Jadi Tulisan

Posted by: apiideologi on: Juli 31, 2009

Hampir setiap orang bisa memberikan komentar atas berbagai permasalah dan peristiwa. Bentuknya singkat namun sudah mewakili pemikiran seseorang. Oleh karena itu komentar bisa dijadikan modal awal sebuah tulisan.

Kebiasaan memberi komentar, seharusnya kita tingkatkan menjadi kemampuan menulis. Ini penting, mengingat baru tulisan yang diakui sebagai karya intelektual, baik berupa artikel maupun buku. Jadi fokus kita sekarang adalah ‘menyulap’ komentar menjadi sebuah tulisan.

Tentu, sebuah komentar awalnya tanpa referensi dan data, untuk menyulap menjadi sebuah tulisan kita harus melengkapinya. Cukup mudah bila dalam otak kita sudah ada inventaris dasar pemikiran dan data sebelumnya, kita tinggal mengeluarkan isi otak saja. Bila belum, maka kita akan mencarinya. Misalnya, kita ingin melengkapi referensi komentar tentang sekulerisme, maka cari buku-buku yang membahas sekulerisme. Bila data sekulersime, kita bisa mencari fakta-faktanya di berita koran, majalah, TV atau di internet, yaitu berbagai peristiwa dan aktivitas manusia yang mengabaikan aturan Allah bahkan membuat aturan sendiri. Jumlahnya tak harus banyak dan lengkap, tetapi cukup mewakili referensi dan fakta sekulerisme. Ramu antara referensi dan data dengan pendapat kita agar menjadi satu kesatuan argumentatif.

Bacalah sekali lagi untuk memastikan tulisan kita mudah dipahami pembaca. Mulai susunan kata, kalimat ataupun alur pengungkapan pemikiran kita dalam tulisan. Perbaikilah segera, apa saja yang menurut kita kurang baik. Kini komentar kita sudah jadi tulisan yang dapat diperhitungkan.