Langsung ke isi

Mendulang Energi ; Menulis dan Bicara dengan Hati

Oktober 12, 2009

Ditulisan ini ada sebuah sisi yang ingin saya bagi. Untuk banyak orang dan saya satu diantaranya. Menulis tak ubahnya seperti bicara. Terkadang pemibicaraan itu mengenakkan tak jarang pula menjemukkan. Pembicaraan yang bagi saya asyik, menarik dan layak, belum tentu sesuai dengan keinginan mereka di sekitar saya. Bisa jadi mereka memiliki sikap sebaliknya. Ada kalanya seorang penulis harus memiliki “toleransi” dengan tulisannya, sehingga dia berupaya mengemas sedemikian rupa agar tulisan yang disajikannya mampu dinikmati. Untuk hal itu penulis menyisipkan bumbu-bumbu (manis, asem, pahit dan kalat) sebagai penyedap tulisannya. Jujur, saya juga sering melakukan demikian.

Saya punya seorang teman penulis yang gemar menulis opini di Koran. Sebelum membuat tulisan, dia membikin outline. Semacam kisi-kisi yang dia jadikan panduan untuk menulis. Dia juga membuat beberapa pertanyaan, yang kemudian dia jawab sendiri berdasarkan literatur yang dia kumpulkan. Bagi saya tulisannya runut, sistematis, dan menggugah. Melihat hal demikian, sayapun bertanya dalam hati, apakah saya harus menulis dengan cara seperti dia ? Pertanyaan itu menimbulkan minat dalam diri saya untuk mencoba, beberapa kali saya coba, dan hasilnya : N.I.H.I.L !!!!
Dilain kesempatan, saya menemukan seorang teman penulis yang juga sangat senang bikin artikel, menurut hemat saya artikel yang sering dibuat teman itu sangat berkelas, intelek, dan solving problem. Teman itupun berujar bagaimana tulisan menarik dihasilkannya. Kebetulan dia termasuk maniak nge-net. Sebelum ada speedy, hot spot, termasuk modem mini. Dia adalah salah seorang pelanggan warnet ter-aktif. Setiap bikin artikel dia selalu mengusahakan online. Sambil mencari bahan untuk tulisan di google search. Otaknya bekerja membuat alur tulisan. Bagian-bagian penting dari sebuah berita, entah itu pendapat orang, hasil studi / penelitian, dll. Dia akan copy-paste terus dia edit dengan bahasa yang menurutnya bagus. Menyaksikan fenomena ini saya kembali bertanya dalam hati, apakah saya harus menulis dengan cara seperti itu? Keragu-raguan menghampiri saya, hal ini justru tidak menggerakkan saya untuk menulis, saya diam dalam kebimbangan dan waktu terus berlalu. Dalam diam itu saya dikagetkan oleh jawaban yang tiba-tiba muncul dalam benak saya, yakni sebuah perkataan : T.I.D.A.K !!!!
Pada teman penulis artikel yang lain, saya menemukan fenomena berbeda. Dia senang sekali menonton TV dan membaca Koran. Dan sering membawa buku kecil, untuk mencatat topic-topik hangat yang dia jadikan inspirasi tulisannya. Poin-poin dari topic itu dia catat. Kemudian sembari berbaring, diapun memencet tombol keyboard PC miliknya ditemani lagu nge-bit dan terkadang lagu mellow entah lagu dangdut ato lagu india. Tulisannya menurut saya T.O.P.B.G.T dan berkarakter. Lagi-lagi kebiasaan itu muncul, seolah ada yang berbisik di telinga, ayo kamu harus bertanya pada hatimu, apakah kamu harus menulis dengan cara demikian? Saya pun akhirnya mau mencoba. Dan ternyata karena dominan dengerin lagu, konsen saya pecah dan buntu datang, karna nulis sambil tengkurep, ya udah…menulis saya lakukan di alam mimpi (alias tidak menulis sama sekali).
Banyak hal yang saya temukan dari kebiasaan rekan sesama penulis. Saya sudah mencoba banyak dari cara-cara mereka walaupun tidak semua, saya juga mengikuti anjuran entah dari buku, blog, ebook, dll yang ditulis penulis terkenal, tapi lagi-lagi saya mentok pada sebuah “ketidakpuasan cara menulis”.
Akhirnya saya membiasakan diri bicara dengan hati : Ketika meilhat beragam karakter orang, ketika merasakan dinginnya udara subuh, pengapnya kamar, listrik mati, sakit, gak punya duit, telat ke kantor, lupa, ditolak, kebohongan penguasa, tangisan rakyat miskin, dll. Saya membiasakan untuk bicara sendiri, layaknya orang gila, kemudian memendam dan mencatat topic-topik itu dalam memori otak saya. Di rumah, memori yang tersimpan itu saya bongkar lewat tuts-tuts keyboard butut bermerk UTEK dan sering pula memori itu saya bagi ke orang-orang yang bicara dengan saya atau ketika saya berkesempatan menjadi pemateri di acara kecil-kecilan. Saya menyebut teori saya adalah “Speed Writing”. Sebuah teori menulis asal yang saya hadirkan dengan beragam rasa yang berkecamuk di hati, sering tak runut, tak sistematis, bahkan memuakkan. Tapi saya terus menulis, dan merangkai sisi demi sisi karakter kepenulisan saya. Walau orang lain tak menyebut saya penulis, saya tetap meneybut diri saya sebagai penulis ( ini penting untuk eksistensi)
Saya bukan seorang penulis terkenal, tapi saya ingin mengenal karakter kepenulisan saya dengan menulis, saya mencoba beragam variasi tulisan, mencoba terus berimprovisasi. Ada yang senang dengan tulisan saya, tapi tak sedikit pula yang menghujatnya, terkadang semangat menulis dan seringkali bosan menulis. Tapi bicara dengan hati memeri saya energy untuk bangkit dari terpuruk, keluar dari kevakuman, memulai lagi meniti rel kepenulisan, jatuh, bergegas bangun dan menulis lagi…menulis..dan menulis….
Dari hal-hal indah itu saya pun berkesimpulan, bahwa setiap kita punya kebiasaan yang kebiasaan itu tidak harus selalu sama. Bagi saya mencontoh itu boleh-boleh saja, tapi yang lebih penting lagi adalah mengambil inspirasi dari orang yang kita contoh atau justru menjadi pemberi contoh dan pemberi inspirasi. Saya ingin selalu berbeda. Dan saya ingin selalu menjadikan tulisan saya sebagai manefistasi dari sebuah bentuk “P.E.R.L.A.W.A.N.A.N”. Dengan segala kurang dan terbatas, saya berusaha untuk mensyukuri karna masih diberi kesempatan untuk menulis. Walaupun tulisan saya jelek !
Ada yang bertanya PERLAWANAN seperti apa yang saya kumandangkan. Saya ingin melawan beragam bentuk ide kufur yang dilahirkan dari rahim sekularisme. Yang oleh para penulis sekuler di kemas sedemikian menarik dan disajikan dalam bentuk artikel, anekdot, pantun, puisi, cerpen, makalah, novel, tesis, buku, script writer dLL. Saya ingin menjadi penulis islami yang menawarkan solusi islami dalam setiap tulisan yang saya sajikan. Saya beristighfar kepada Allah SWT semoga ini bukan sebuah sikap kesombongan. Saya ingin meyeru kepada anda yang memiliki waktu untuk menulis dan meluangkan waktu untuk menulis. Saatnya anda, saya dan kita melakukan perlawanan (dakwah) melalui tulisan..serang ide-ide sekuler yang laknat, hina, dan busuk itu. Tampilkan ide islami yang indah, menggugah dan mengajak kita berubah kea rah lebih baik (islami). Karena menulis adalah salah satu uslub untuk beribadah kepada Allah SWT, yakni menulis dengan niat ikhlash karena Allah SWT dan dilakukan tanpa melanggar rambu-rambu yang digariskan Syari’at Islam. Ayo menjadi penulis ideologis. Maka tunggu apa lagi ayo kita berjuang, salah satunya dengan menulis….!!!!

by Wahyuddin Noor

2 Komentar leave one →
  1. November 3, 2009 12:12 pm

    be the best writer !!

  2. Mei 12, 2010 10:12 am

    Memang benar, dg rajin menulis otomatis energi berbicara menjadi bertambah. Penulis yg baik, biasanya baik pula saat ceramah or berbicara. Tapi – maaf- pembicara yg bagus, belum tentu bagus pula dlm menulis. Tulislah kebenaran, yang dgn itu anda akan peroleh pahala. Apalagi ada yang melaksanakan kebaikan2 or kebenaran2 tadi niscaya akan berlipat ganda pahala yg bakal anda raih. Smoga APII jaya di bumi pertiwi n di penjuru negeri.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.883 pengikut lainnya.