Langsung ke isi

Menyemangati Diri !

November 14, 2009

Ditulisan singkat ini aku ingin berujar tentang pengalaman, kisah, nasehat atau mungkin curhat dari manusia-manusia dahsyat yang diluar perkiraan. Ternyata banyak menebar energi hitam, alih-alih menguatkan tapi justru aktivitas itu semakin memiriskan, melemahkan bahkan mengimpotenkan energi muda yang meluap, meledak dan siap merontokkan benteng-benteng kekufuran yang dilindungi, dibungkus, dijaga dan dikuatkan oleh beragam ide dan pemahaman busuk yang sengaja diemban dan dijajahkan.

Dan perlahan aku mulai meluruskan makna kata “dulu” ! kedua telingaku sering mendengar beragam kisah masa jaya dari manusia-manusia dahsyat itu. Dulu kami semangat sekali berdakwah, dulu kami sangat berani menyampaikan kebenaran, dulu kami tak pernah mengeluh dalam berkorban. Dulu kami begitu luar biasa dalam mengontak dan merekrut kader, dulu kami dengan fasilitas seadanya berusaha memberi yang terbaik untuk perjuangan. Dulu kami tak gentar dalam berdebat dan menerima cemooh, bahkan dulu kami tak pernah takut bila harus dikeluarkan dari kuliah karena kami memperjuangkan sebuah keyakinan shohih yang kebenarannya tak terbantahkan. Tapi kini kami sudah tua, kami sudah bekeluarga, kami sudah sibuk bekerja, dan bukan masanya lagi kami harus teriak-teriak di jalan, harus ke sana kemari menyambangi mahasiswa, mengajak dan menyadarkan mereka akan peran dan fungsinya sebagai agen perubahan. Harus berlelah-lelah bergadang membuat artikel perubahan, mendesain majalah, melayout spanduk, atau turun naik berbagai instansi dan perusahaan untuk menggalang dana kegiatan. Kini saatnya era kalian, kalian yang akan melanjutkan estafet perjuangan di kampus. Berjuanglah dan belajarlah mandiri untuk melakukan perubahan ! Kata-kata itu sampai saat ini terus mengiang ditelingaku, terus menjadi pertanyaan yang membutuhkan jawaban segera. Dalam waktu yang lama aku terus mencarinya, hingga tiba masa itu, di suatu malam dingin, gelap, bernyamuk dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Sebuah forum berbagi gelisah, sebuah forum introspeksi dan jaul-beli energi gratis.

Lama..lama.. dan sangat lama, aku merasa berjuang sendiri, entah ini realita atau sekedar ego dari gejolak muda yang begitu menapikan arti “toleransi !”. Sering kali terdengar nada keluhan dan sering kali itu menjadi energy hitam (untuk waktu yang lama). Ma’af istri saya tidak berani sendirian dirumah, ma’af saya lagi ngurus anak, ma’af istri saya minta diantar ke pasar, ma’af saya capek sekali habis bekerja, ma’af saya lagi pusing, ma’af mertua saya datang ke rumah, ma’af sebaiknya yang lain saja, ma’af saya telat datang rapat. Ma’af..ma’af dan ma’af, sempat aku begitu muak dengan kata ma’af. Lagi-lagi kata ma’af justru ikut-ikutan menjadi energi hitam yang terus mengotori dan menghitamkan hati. Dan tak sedikit mereka yang sering melontar ma’af itu perlahan mulai menjauh dari perjuangan, hingga akhirnya memutuskan untuk memilih istirahat bahkan sampai berhenti total untuk berjuang.

Malam itu, seorang manusia dahsyat yang lama menghilang dari peredaran, kembali mendapat pencerahan dan bertobat dari khilaf dan keliru, membuka lembaran baru meniti jalan kebenaran sebagai pejuang syari’ah dan khilafah. Seorang master perubahan di kampus ini, yang namanya semerbak ditengah civitas akademika, sebagai mahasiswa idealis yang pernah suatu ketika tatkala adzan Dzhuhur berkumandang disaat sang dosen sedang menjelaskan materi kuliah, dengan santun, ramah, pemuda 155 cm, berkumis dan bertahi lalat di samping bibir bawah maju ke depan. Dengan lembut dan mendalam dia berujar. “Assalamu’alaikum, teman-teman mohon ma’af mengganggu, adzan dzuhur telah berkumandang mari sejenak kita minta ijin istirahat kuliah untuk bersma-sama melaksanakan shalat dzuhur secara berjama’ah.” Sang dosen hanya bisa diam terkesima, menyaksikan keberanian seorang mahasiswanya, hingga diapun tak kuasa untuk tidak mengijinkan mereka shalat dzhuhur. Aku sangat yakin, untuk saat ini masih belum terdengar mahasiswa yang berani senekat itu! Sekarang manusia dahsyat itu telah beristri dengan seorang bidadari nan cantik lagi sholehah, dikaruniai dua orang anak. Malam itu dia menceritakan dengan menyentuh dan berapi-api, tentang pergolakan bathin yang dialaminya, selepas kuliah dia bimbang, bimbang dengan apa yang diyakini dan diperjuangkannya sejak mahasiswa, tentang rezki, ajal dan lika-liku hidup berumah tangga. Dia juga turut bercerita kehidupan kerja yang gelap, suram, dan jauh dari cahaya iman. Suaranya bergetar, ada bulir bening menetes dari matanya. Dia berujar, bathin ana gelisah akhi dengan kondisi itu, ana gak tahan!. Dia juga melontarkan rasa malunya tatkala bertemu dengan teman seperjuangan yang senantiasa istiqomah berjuang walau hidup serba pas-pasan, walau kondisinya jauh lebih memprihatinkan ! dia iri kenapa teman-temannya bisa dia tidak! Hingga akhirnya diapun sampai pada kata-kata yang menjadi jawaban atas pertanyaanku.

“Akhi, kita sebagai orang yang memperjuangkan syari’ah dan khilafah pun tak bisa mengelak dari beragam cobaan dan tantangan hidup. Kita akan menemuinya, tapi kita dibina untuk menghadapi dan menyelesaikannya bukan lari darinya. Akhi perjuangan kita sangat berat, beragam upaya untuk menjauhkan kita terus dilakukan secara sistematis, karena itu kita harus yakin, ta’at dan bersabar terhadap Hukum Syara’ dan Tata Tertib Perjuangan Perusahaan yang kita Tabbani !”
“Akhi, kita berjuang karena ideologi (akidah) yang kita yakini. Walaupun satu persatu teman-teman kita bermasalah baik dalam urusan dakwahnya, maisyahnya, atau kuliahnya, janganlah kita justru jadi pelengkap masalah itu, minimal kita yang tidak bermasalah. Jadilah cahaya terang benderang, disaat cahaya saudara kita mulai meredup, terangi mereka, kuatkan mereka, do’akan mereka, dan pompakan gelora semangat di hati mereka yang hendak membeku. Bajakan keyakinan mereka, hadirkan kerinduan mereka akan Janji yang Allah Firmankan sebagai balasan atas perjuangan yang kita lakukan. Insya Allah hati-hati kita akan terasa lapang, janganlah turut memberi energi hitam kepada saudara yang lain, tapi berilah mereka energi ri’ayah, energi pembebasan dan pencerahan, karena tanpa mereka perjuangan ini akan semakin berat dan melelahkan.”

Ya Rabbi ampuni dosa hamba, yang telah berprasangka dan kecewa terhadap beragam sikap dan tindakan saudara hamba yang dalam pandangan hamba adalah lalai dan lemah. Ya Rabbi kuatkan kami dan tautkan hati-hati kami dalam indahnya Aqidah Islamiyyah dan kokohkan kami dalam keistiqomahan dan kesabaran hingga Syari’ahMu berhasil diterapkan dan Khilafah yang Engkau janjikan berhasil kami perjuangkan dan dirikan.  Semua terjadi hanya atas ijin dan kehendak-Mu saja, duhai rabb penguasa Semesta!

Wahai manusia-manusia dahsyat.. wahai para ustadku yang telah menunjukkan jalan ini… Jazakallah Khairan Katsir atas nikmat Allah SWT yang turut kalian hadirkan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai penghuni Jannah-Nya. Gasan ading-ading mahasiswa .. ayo dinglah kita berjuang bersama-sama….!!!!…

By Wahyuddin Noor

3 Komentar leave one →
  1. November 15, 2009 3:14 pm

    mas spasinya tolong di perhatikan. tiap 50 sampai 100 kata di kasih spasi ya

  2. November 15, 2009 3:18 pm

    benar benar malas membacanya… !!! spasinya tolong di perhatikan

    • pinterpol permalink*
      November 15, 2009 4:21 pm

      syukron atas masukkannya, dan sudah diperbaiki.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.883 pengikut lainnya.