Lompat ke isi

Renungan Guru

Desember 12, 2009

guruGURU; digugu dan ditiru. Kata ini sering melekat pada GURU. Tapi berita jumat pagi (11-12-09) di Trans7 benar-benar membuatku prihatin lagi. Ada oknum GURU yang menghukum muridnya (merendamnya selama 2 jam) karena pulang dari asrama tanpa izin, kemudian si murid sakit demam tinggi dan terkena typus.

Sebagai renungan, kita masih ingat dengan GURU matematika di Jawa Timur yang menghukum muridnya sampai kaki murid itu patah. Seorang GURU di Agam-Muara Enim Sumsel membanting 4 muridnya karena memecahkan pot bunga. Seorang siswa SD KELAS 2 di Duren Sawit-Jakarta patah giginya setelah dibenturkan kepalanya oleh si GURU, hanya karena tidak bisa mengeja kalimat. Seorang Pembina pramuka mencabuli anak binaannya. Dan masih banyak yang lain. Naudzubillah ya Rabb…

Ada apa dengan GURU?? Sebenarnya, kalian itu pendidik atau penghancur anak bangsa?

Sebenarnya, GURU tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena tidak semua GURU seperti itu. Masih banyak GURU berhati mulia dan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena sistem perekrutan GURU jg banyak salah kaprah. Alumni Fakultas Tarbiyah / Kependidikan banyak dijajah oleh mereka yang ‘gagal’ di fakultasnya, kemudian menjajah ‘kewenangan’ alumni Tarbiyah. Karena ‘tidak laku’ dipasaran, kemudian masuk ke bidang keguruan. Bukan hanya teori yang dibutuhkan GURU sebagai pendidik, tapi ada Hidden Skill yang harus dimiliki. Semisal teladan, akhlak dan kepribadian, psikologi kependidikan dan lain-lain.

Menghukum murid sembarangan adalah kesalahan. Jika ia diajari dengan kekerasan, maka ia akan belajar kekerasan. Wahai guru, untuk apa semua kekerasan itu? Jika untuk mendisiplinkan, cara ini salah kaprah. Jika untuk menunjukkan wibawa, cara ini kuranglah tepat.

Murid-murid zaman modern tidaklah tepat diberi punishment yang berbau fisik dan kekerasan. Saya sendiri adalah seorang guru atau pembina di sebuah yayasan, ada kesalahan dari anak didik itu memang wajar. Dan sebagai hukuman yang biasa saya berikan adalah sebagai berikut:

Menyalin 100 lafadz basmallah dalam selembar kertas. Membersihkan aula, Membuat ringkasan dari sebuah buku di perpus, Menyalin 25 surat al-Fatihah dalam kertas, Membersihkan halaman, Berdiri selama 20 menit di aula, Membuat karangan minimal 2 halaman, Membaca al-Quran selama 30 menit, Mengisi kultum sebelum maghrib atau sesudah subuh, Membaca 1 buku di perpus sampai tuntas, Mentranslite Setengah halaman buku berbahasa Inggris atau Arab. Dll.

Sebagai guru, pendidik atau Pembina, marilah kita kreatif dan inovatif.

So, apakah kamu punya inovasi yang tepat untuk mendisiplinkan murid-murid?

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 4.879 pengikut lainnya.