<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aliansi Penulis Islam Ideologis</title>
	<atom:link href="http://apiideologi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apiideologi.wordpress.com</link>
	<description>Menulis untuk Perubahan Menuju Kehidupan Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 02:48:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='apiideologi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aliansi Penulis Islam Ideologis</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://apiideologi.wordpress.com/osd.xml" title="Aliansi Penulis Islam Ideologis" />
	<atom:link rel='hub' href='http://apiideologi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berapa Uang 6,7 Triliun itu ?</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2011/12/12/berapa-uang-67-triliun-itu/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2011/12/12/berapa-uang-67-triliun-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 22:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>akbarpembebas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Di negeriku ada pencuri Pasang badan bela Century Uang amblas di bawa Lari Nasabahnya Mati Berdiri Di negeriku ada pejabat Paling gak kuat sama suap Uang rakyat pasti disunat Jadi budak si cukong kakap Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu karya Ust. Umar Abdullah. Sebuah lagu yang mencoba menggugat fakta kerusakan yang terus terjadi di belahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=62&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2011/12/kasus-century-penuhi-unsur-pidana-korupsi.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-153" title="Kasus-Century-Penuhi-Unsur-Pidana-Korupsi" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2011/12/kasus-century-penuhi-unsur-pidana-korupsi.jpg?w=300&#038;h=225" alt="korupsi century" width="300" height="225" /></a>Di negeriku ada pencuri<br />
Pasang badan bela Century<br />
Uang amblas di bawa Lari<br />
Nasabahnya Mati Berdiri</p>
<p>Di negeriku ada pejabat<br />
Paling gak kuat sama suap<br />
Uang rakyat pasti disunat<br />
Jadi budak si cukong kakap</p>
<p>Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu karya Ust. Umar Abdullah. Sebuah lagu yang mencoba menggugat fakta kerusakan yang terus terjadi di belahan bumi terindah bernama Indonesia. Dari penggalan lirik itu, tentunya pikiran kita telah tertuju pada adegan reality show paling spektakuler tahun ini. Reality show yang melibatkan banyak orang-orang penting di negeri ini.<span id="more-62"></span></p>
<p>Namun, pada kesempatan ini saya tidak berminat membahas tentang apa dan bagaimana skandal bank Century bisa terjadi. Saya lebih tertarik membahas betapa banyak uang yang digelontorkan untuk menyelamatkan Bank Century yang katanya dilakukan demi menjaga kestabilan dunia perbankan Indonesia. Walaupun saya sendiri meragukan argumentasi itu. Apalagi tingkat popularitas Bank Century di kalanagan masyarakat tidak terlalu terkenal. Di daerah saya saja, nama Bank Century tidak begitu populer di kalangan masyarakat. Entahlah, setidaknya bagi kalangan ibu-ibu di sekitar rumah saya nama Bank Century baru pertama kali mereka dengar di televisi sekarang-sekarang ini saja. Mereka lebih mengenal nama Bank Encip si tukang sayur daripada Bank Century.</p>
<p>“duit sebanyak itu buat apa ya maksudnya ?” tanya ibu saya</p>
<p>“katanya sih buat menyelamatkan dunia perbankan Indonesia, karena kalo Bank Century tidak dibantu akan ada 15 Bank lain yang ikut gulung tikar, nah hal ini dilihat sebagai ancaman bagi dunia perbankan Indonesia, makanya diputuskanlah untuk membantu Bank ini dengan memberikan bantuan dana (istilahnya Bail Out) sebesar 6,7 Triliun, padahal kalo kita mau jujur sebenarnya bank ini gak begitu terkenal di kalangan masyarakat, masih lebih terkenal Bank Encip ya mah…?” jawab saya secara sederhana.</p>
<p>“Kira-kira kalo itu duit dimasukin ke gudang, ruangan ini cukup gak ya ?” kali ini Ayah saya yang ikut menimpali, sambil matanya melihat ke sekeliling ruangan di rumah kami.</p>
<p>“hahahaha… yang jelas kalo duit 6,7 triliun dipake buat beli Cendol, Jakarta bisa banjir Cendol.” Jawab saya sekenanya.</p>
<p>Justru dari pertanyaan ayah saya itulah, kemudian saya membayangkan berapa banyak sesungguhnya uang 6,7 triliun apabila divisualisasikan. Selama beberapa hari saya tidak bisa membayangkan berapa banyak pastinya uang dengan nominal sebesar itu.</p>
<p>Sampai akhirnya kemarin siang, saya berhasil menemukan gambaran visual tentang berapa banyak uang 6,7 triliun itu sesungguhnya. Kejadian itu berlangsung di mesjid kampus UIKA (Mesjid Al Hijri II). Di temani 2 orang kawan sebagai assisten, saya mulai berkonsentrasi melakukan penghitungan agar gambaran visualisasi yang saya lakukan mendekati tepat.</p>
<p>Berikut ini adalah cara penghitungan yang saya lakukan :</p>
<p>Pertama saya mengeluarkan sehelai kertas HVS berukuran Folio (8,5 x 13 in) atau sekitar 21,59 x 33,03 cm. Kemudian saya keluarkan selembar uang pecahan Rp. 100.000. Saya menyusun uang tadi secara teratur, hingga dalam 1 helai kertas tersebut mampu menampung 6 lembar uang pecahan Rp. 100.000. Kemudian saya berpikir, kalo 1 helai mampu menampung 6 lembar uang pecahan Rp. 100.000 (Rp.600.000) maka dalam satu rim kertas, uang yang mampu ditampung adalah Rp. 300.000.000 “Tiga Ratus Juta Rupiah” (Rp.600.000 x 500 lembar kertas HVS ukuran Folio). Sudah Jelas ? Lanjut ke tahap berikutnya.</p>
<p>Setelah itu saya bertanya, kalo 1 rim itu menampung uang sebesar Rp. 300.000.000, butuh berapa rim untuk menampung uang sebanyak 6,7 triliun (6.700.000.000.000). Hasilnya adalah 22.333,33 rim kertas (6.700.000.000.000 : 300.000.000)</p>
<p>Silahkan bayangkan sebesar apa gudang yang dibutuhkan untuk menampung kertas HVS Folio sebanyak 22.333,33 rim. Cukup sampai disitu ? saya belum puas karena visualisasi yang saya dapatkan belum begitu bisa terlihat nyata dalam bayangan saya.</p>
<p>Saya kemudian berpikir bagaimana seandainya seluruh tumpukan uang yang telah dipacking per-satu-rim itu ditumpuk menjadi satu dan dibentuk menjadi sebuah menara. Terbayang berapa tingginya ? Mudah saja kawan… kita asumsikan 1 rim (500 lembar) memiliki ketebalan sekitar 7 cm (diperkirakan saja). Tinggi menara uang tersebut adalah 156.333,33 cm (22.333,33 x 7 cm). Setelah itu kita konversi ke dalam satuan jarak yang tertinggi yaitu Km.</p>
<p>1 Km = 100.000 Cm (masih ingat pelajaran kelas 4 SD ini dong…?!!!), Artinya :<br />
1 Cm = 1/100.000 Km<br />
156.333,33 cm = 156.333,33 / 100.000 Km, hasilnya adalah :<br />
1,5633 Km (jarak ini adalah jarak dari depan rumah saya menuju ke jalan raya Leuwiliang-Bogor). Artinya kalo uang itu disusun di pinggir jalan, maka uang itu cukup untuk dijadikan trotoar sepanjang kurang lebih 1,5 Km.</p>
<p>Terakhir, ada yang tahu berapa tinggi Monumen Nasional (Monas) yang ada di Jakarta. Menurut sumber dari Wikipedia, tugu peringatan yang diresmikan oleh Ir. Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1961 tersebut hanya memiliki tinggi sekitar 132 m (13.200 cm). Bandingkan dengan menara uang yang telah kita visualisasikan bersama tadi.</p>
<p>Tinggi menara uang : Tinggi Monas<br />
156.333,33 cm : 13.200 cm, semuanya dibagi 13.200, hasil perbandingannya adalah :<br />
11,8434 : 1</p>
<p>Artinya, Uang sebanyak 6,7 triliun yang dari tadi kita perbincangkan, apabila ditumpuk dan dijadikan sebuah menara, tingginya akan mencapai 11 kali dari tinggi Monumen Nasional yang ada di Jakarta. Sungguh visualisasi yang tak pernah saya duga sebelumnya…</p>
<p>Apakah kalian juga mampu melihat visualisasi seperti yang saya lihat dalam bayangan pikiran saya ?</p>
<p>AkbarPembebas</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=62&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2011/12/12/berapa-uang-67-triliun-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>0.000000 0.000000</georss:point>
		<geo:lat>0.000000</geo:lat>
		<geo:long>0.000000</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/521078b1a87b07b98ab211c1eebf8753?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akbarpembebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2011/12/kasus-century-penuhi-unsur-pidana-korupsi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kasus-Century-Penuhi-Unsur-Pidana-Korupsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ideologi dan Kebangkitan</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2010/05/23/ideologi-dan-kebangkitan/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2010/05/23/ideologi-dan-kebangkitan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 23:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pinterpol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Peringatan Hari Kebangkitan Nasional sudah menjadi rutinitas yang sering kita lakukan pada 20 Mei setiap tahunnya. Seperti biasa, rutinitas ini diisi dengan acara yang formalitas tanpa ruh, plus pidato basa-basi tentang kebangkitan. Kalau dihitung-hitung mulai dari berdirinya Boedi Oetomo (20 mei 1908) hingga saat ini berarti sudah 102 tahun berlalu. Pertanyaan kritisnya, sudahkah kita bangkit? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=125&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2010/05/22049_322243895368_316554635368_3603234_5306773_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-126" title="22049_322243895368_316554635368_3603234_5306773_n" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2010/05/22049_322243895368_316554635368_3603234_5306773_n.jpg?w=251&#038;h=167" alt="" width="251" height="167" /></a>Peringatan Hari Kebangkitan Nasional sudah menjadi  rutinitas yang sering kita lakukan pada 20 Mei setiap tahunnya. Seperti  biasa, rutinitas ini diisi dengan acara yang formalitas tanpa ruh, plus  pidato basa-basi tentang kebangkitan. Kalau dihitung-hitung  mulai dari berdirinya Boedi Oetomo (20 mei 1908) hingga  saat ini berarti sudah 102 tahun berlalu. Pertanyaan kritisnya, sudahkah  kita bangkit?</p>
<p>Alih-alih bangkit, kehidupan  kenegaraan dan nasib rakyat kita malah semakin terpuruk. Tidak  mengherankan kalau begitu banyak julukan ‘hitam’ untuk negeri ini.  Ada yang mengatakan <em>the failed state</em> (negara gagal),  ‘v<em>ampire state</em> (negara drakula penghisap darah rakyat),  negara biadab dan julukan-julukan menyedihkan lainnya.<span id="more-125"></span></p>
<p>Secara emosional kita  mungkin marah dijuluki seperti itu, tetapi kenyataan memang menunjukkan  seperti itu. Kasus terakhir lihatlah markus (makelar kasus) perpajakan.  Kejahatan yang dilakukan—sebagaimana dalam kasus Century—sistematis.  Kejahatan ini juga melibatkan hampir seluruh penegak hukum;  mulai dari kepolisian, kehakiman, jaksa hingga pengacara. Bayangkan  kalau penegak hukumnya malah menjadi pelanggar hukum, siapa lagi yang  bisa kita harapkan?</p>
<p>Secara ekonomi, Pemerintah  bisa saja mengklaim angka pertumbuhan ekonomi tinggi, neraca perdagangan  positif, rupiah menguat, ekspor meningkat, pengangguran berkurang, dan  sejumlah klaim lainnya.</p>
<p>Namun, lihatlah kenyataan  sesungguhnya di tengah-tengah rakyat kita. Kemiskinan di mana-mana  tumbuh meningkat. Rakyat banyak yang hidupnya tak layak, bahkan untuk  makan pun susah. Busung lapar terjadi di beberapa tempat. Biaya  kesehatan makin meningkat tidak terjangkau. Rakyat kecil harus bisa  menahan sakit karena tak mampu berobat. Pendidikan pun semakin mahal  sekaligus tidak bermutu dan tidak menjamin seseorang meraih  pekerjaan apalagi gaji yang layak.</p>
<p>Bukti kongkrit kondisi ini,  lihatlah di jalan-jalan. Anak-anak jalanan dan pengemis semakin tumbuh  subur. Jumlah orang gila di jalanan makin bertambah karena tidak mampu  menahan beban hidup yang berat dan kompleks. Masyarakat kita menjadi  masyarakat yang sakit. Tidak sekali-dua kali kita mendengar dan  menyaksikan ibu membunuh anaknya, suami membakar istrinya,  anak membunuh orang tuanya. Semuanya biasanya berpangkal pada kesulitan  hidup.</p>
<p>Kesenjangan pun semakin  menjadi-jadi. Saat orang miskin kesulitan makan untuk sehari-hari,  pedagang mendapat lima ribu rupiah saja sulit, ada yang dengan tega  mempertontonkan kekayaannya dengan acara pernikahan yang super mewah  mencapai miliaran rupiah; ada yang tega mempertontonkan korupsinya  hingga miliaran rupiah. Para pejabat dan politisi pun memamerkan  kerukusannya dengan biaya anggaran bagi pejabat yang tidak masuk akal.</p>
<p>Ada yang mengatakan kita  tidak bangkit-bangkit karena sejak awal penetapan Hari Kebangkitan kita  telah cacat secara sejarah. Banyak yang mempertanyakan;  layakkah Boedi Oetomo (berdiri 20 mei 1908) menjadi pelopor kebangkitan  nasional? Pasalnya, Boedi Oetomo tidak lebih dari kumpulan priyayi Jawa  yang beraktivitas untuk kepentingan kelompoknya, bukan untuk rakyat  banyak. Bahkan keanggotaannya khusus untuk orang Jawa dan Madura.</p>
<p>Syarikat Dagang Islam (SDI)  yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam (SI) yang berdiri tahun 16  Oktober 1905 (3 tahun lebih awal) sebenarnya pantas,  mengingat tujuannya untuk membangkitkan rakyat miskin kebanyakan,  melawan dominasi kolonial terutama di bidang ekonomi. Organisasi yang  didirikan Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto mencita-citakan kemerdekaan  Islam Raya dan Indonesia Raya. Tidak hanya itu, Syarikat Islam bersikap  non-kooperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda.  Sebaliknya, Boedi Oetomo menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda  karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai  pemerintah kolonial Belanda.</p>
<p>Namun tentu saja ada hal  yang lebih mendasar mengapa kita tidak bangkit-bangkit. Ada dua  kemungkinan jawabannya. <em>Pertama</em>: Kita tidak tahu persis bagaimana  cara bangkit. Kita melupakan ideologi sebagai dasar kebangkitan.  Padahal kebangkitan mutlak didasarkan pada ideologi. Ideologi merupakan  dasar (fondasi) yang akan menentukan pemikiran-pemikiran dan aturan yang  lahir darinya. Bagaimana corak dan substansi dari sistem politik,  ekonomi, sosial, pendidikan sebuah negara ditentukan oleh ideologinya.  Karena itu, dasar kebangkitan yang utama bukanlah ekonomi atau  pendidikan, karena ekonomi atau pendidikan merupakan pemikiran turunan  dari dari sebuah ideologi, bukan pemikiran mendasar.</p>
<p>Ideologi juga menjadi  pandangan hidup yang akan mengarahkan cara berpikir dan bertindak  manusia.</p>
<p>Syaikh Taqiyuddin  an-Nabhani mendefinisikan fakta ideologi ini secara tepat  dengan menggunakan istilah <em>mabda’</em>. Menurut beliau, <em>mabda’</em> adalah suatu <em>‘aqidah aqliyyah</em> yang melahirkan peraturan’;  <em>mabda’</em> adalah ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta,  manusia dan hidup (sebagai sebuah pandangan hidup). <em>Mabda’</em> terdiri dari dua bagian, yaitu <em>fikrah</em> (pemikiran) dan <em>thariqah</em> (metode praktis untuk merealisasikan <em>fikrah</em>).</p>
<p>Jawaban kedua, kita gagal  bangkit karena kita telah keliru merumuskan ideologi apa yang seharusnya  menjadi dasar kehidupan bernegara kita. Di era Soekarno, diakui atau  tidak, ideologi kita telah banyak dipengaruhi Sosialisme. Di era  Soeharto hingga SBY sekarang negara kita diarahkan oleh ideologi  Kapitalisme. Kedua-duanya terbukti gagal. Bukti kongkritnya adalah apa  yang kita dapat sekarang ini.</p>
<p>Tentu sangat merugikan  kalau kita kembali pada Sosialisme yang telah gagal atau  kita ngotot mempertahankan Kapitalisme yang justru menjadi pangkal  berbagai masalah dan bencana di negeri ini. Kedua ideologi ini gagal  karena sesungguhya tidak sejalan dengan akal sehat manusia dan  bertentangan dengan fitrah.</p>
<p>Gambaran kegagalan  Kapitalisme ini secara akurat ditulis Moris Berman (63 tahun) dalam  bukunya, <em>Dark Ages America: The Final Phase of Empire</em> (Norton,  2006). Menurut dia, imperium Amerika segera akan rubuh. Ia  mendeskripsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak  oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif  mengeskpor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunakan  senjata. Republik yang berubah menjadi imperium itu berada di dalam  zaman kegelapan baru dan menuju rubuh sebagaimana dialami Kekaisaran  Romawi.</p>
<p>Walhasil, pilihan kita dan  umat manusia sekarang tinggal satu: ideologi Islam. Inilah ideologi yang  sesuai dengan akal sehat serta fitrah manusia. Ideologi ini bersumber  dari Allah SWT. Islamlah yang akan membawa kebangkitan, bukan hanya bagi  Indonesia, tetapi juga dunia. Masihkah kita menolaknya?</p>
<p><strong> </strong>[Farid  Wadjdi - hizbut-tahrir.or.id]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=125&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2010/05/23/ideologi-dan-kebangkitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/918000d9569f37d1854453a0d5df6bd3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pinterpol</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2010/05/22049_322243895368_316554635368_3603234_5306773_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">22049_322243895368_316554635368_3603234_5306773_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Media dan Propaganda Teror</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/20/media-dan-propaganda-teror/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/20/media-dan-propaganda-teror/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 08:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apiideologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[propaganda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Masih segar dalam ingatan kita tatkala Indonesia menangis. Duka merebak dalam dada negeri yang terluka. Seperti lagu milik Slank, Jakarta meledak lagi, Jumat (17/7/09). Ledakan dahsyat di Mega Kuningan (Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton) telah mengakibatkan 9 orang meninggal dunia dan lebih dari 50 orang luka-luka. Yang terbaru dan sensasional mungkin penyergapan teroris oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=72&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/media.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-82" title="media" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/media.jpg?w=600" alt=""   /></a>Masih segar dalam ingatan kita tatkala Indonesia menangis. Duka merebak dalam dada negeri yang terluka. Seperti lagu milik Slank, Jakarta meledak lagi, Jumat (17/7/09). Ledakan dahsyat di Mega Kuningan (Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton) telah mengakibatkan 9 orang meninggal dunia dan lebih dari 50 orang luka-luka. Yang terbaru dan sensasional mungkin penyergapan teroris oleh Densus 88 di Temanggung. Dua stasiun televisi meliput eksklusif secara langsung, sayang pemberitaannya meleset. Bukan Noordin M Top yang dilumpuhkan seperti yang diberitakan, namun seseorang bernama Ibrahim. Media jadi ‘agen kekerasan online’.<br />
Seperti biasa pers Barat segera menuding Jama’ah Islamiyah (JI) dibalik bom Marriot dan Carlton. Situs The Australian, Jumat (17/7) menuding dengan Headline “Jakarta hotel blasts kill seven, bear mark of Jemaah Islamiah”. ABC News mengkaitkan dengan al Qaida. <span id="more-72"></span><br />
Hingga kini, arah pemberitaan media massa di Indonesia pun sudah tertuju pada JI sebagai pelaku pengeboman itu. Pengeboman itu segera mendapatkan liputan luas di dunia internasional dan memancing kecaman-kecaman dari dunia internasional: Australia, AS, Filipina, dan sebagainya. Bahkan kemudian, banyak negara menawarkan bantuan untuk membantu Polri menyelidiki pengeboman itu.<br />
Analisis yang diklaim sebagai pakar yang selama ini dikenal miring terhadap kelompok Islam seperti Rohan Gunaratna Direktur International Center for Political Violence and Terrorism Research (ICPVTR) di Nanyang Technological University Singapura langsung menuduh kelompok Islam. Menurut Gunaratna, pengeboman di Indonesia tidak akan berhenti sampai “pemimpin spiritual” JI, Abu Bakar Ba’asyir ditangkap dan dipenjara. Tudingan yang sama disuarakan Sidney Jones dari ICG. Bahkan mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono ketika diwawancara TV One (29/07/09), mengatakan bahwa terorisme terkait dengan Wahabi radikal, yang merupakan lingkungan yang cocok bagi terorisme.<br />
<strong>Media dan Propaganda Teror</strong></p>
<p>Teori propaganda belakangan ini kembali menguak tatkala media memberitakan rentetan aksi-aksi bom yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri. Menarik diperbincangkan karena—oleh publik—media diharapkan mampu menguak berbagai misteri yang meliputi peristiwa-peristiwa tersebut, terutama siapa otak pelaku pengeboman tersebut. Minimal memberikan fakta-fakta yang menggiring keluarnya cahaya kebenaran. Namun tanpa sadar, banyak media malah ikut terpengaruh opini yang berkembang dan membebek common sense, Independensinya tergeser karena pragmatisme. Media massa akhirnya turut terjerumus dalam mempropagandakan teror atas nama agama. Isu teror jadi komoditas jualan media yang laris manis.<br />
Karena biasa menilai media massa itu selalu netral, obyektif dan jujur, banyak orang mudah percaya dengan apa saja yang dibawa media massa. Padahal dalam kenyataannya, media massa bukanlah ‘malaikat’ pembawa berita yang tak pernah salah. Bahkan justru media sering terperangkap propaganda barat terkait masalah terorisme. Teror bom Mega Kuningan dipersepsikan media sebagai bagian dari menegakkan syariah, padahal hal itu sejatinya bertentangan dengan syariah. Syariat Islam dengan tegas melarang siapapun dengan motif apapun membunuh orang tanpa hak, merusak milik pribadi dan fasilitas milik umum.<br />
Isu terorisme yang digulirkan media mendistorsi makna jihad. Seakan-akan jihad adalah kejahatan. Padahal sangat jelas dalam Islam, secara syar’i jihad adalah perang di jalan Allah SWT untuk meninggikan kalimah-Nya. Jihad bukanlah kejahatan tapi kewajiban yang mulia. Tentu amal jihad harus mengikuti syarat, rukun, serta ketentuan-ketentuan syariah. Jihad antara lain dilakukan dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam yang membunuh kaum muslim.</p>
<p>Yang jangan dilupakan selama ini tindakan yang diklaim terorisme masih diliputi oleh misteri. Serangan WTC yang dijadikan Bush alasan Perang Melawan Terorisme hingga saat ini masih dipertanyakan siapa sebenarnya pelakunya. CIA dan badan intelijen lainnya telah diketahui umum terlibat dalam berbagai konspirasi melakukan interfensi untuk menghancurkan sebuah negara seperti di Iran, Honduras, dan Irak. Dokumen keterlibatan CIA dalam berbagai insiden politik di Indonesia seperti peristiwa September tahun 1965 juga telah banyak terungkap.<br />
Artinya adalah sangat memungkinkan berbagai terror bom di Indonesia ditunggangi oleh kepentingan negara Imperialis. Tentu saja itu bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak. Apalagi kalau dilihat dari siapa yang paling diuntungkan dalam ledakan bom ini, jelas adalah Amerika Serikat dan sekutunya. Ledakan bom yang terjadi di Indonesia justru dijadikan AS dan sekutunya sebagai alat dan propaganda untuk mengintervensi atas nama kerjasama perang melawan terorisme.<br />
Penyesatan opini yang terjadi juga bagian dari propaganda. Propaganda sering diartikan sebagai suatu proses yang melibatkan seorang komunikator yang bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku penduduk yang menjadi sasarannya melalu simbol-simbol verbal, tulisan, dan perilaku; dengan menggunakan media massa. (Columbus dan Wolf, Pengantar Hubungan Internasional, hlm. 184). Media yang terjebak opini hanya akan menjadi corong negara imperialis untuk merubah sikap, pendapat, dan perilaku masyarakat sejalan dengan kepentingan Barat.<br />
Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Satrio Arismunandar menilai pemikiran insan media di Indonesia terkooptasi hegemoni asing. Menurutnya, walau ada beberapa media yang kritis, pada umumnya media massa betul-betul sangat mengandalkan dan mengikuti begitu saja penjelasan dari aparat keamanan. Tidak diverifikasi lagi, masuk akal atau tidak. “Jadi memang sedari awal sudah ikut arus sesuai apa yang diinginkan asing atau aparat keamanan. Atau bahkan media tersebut bekerjasama dengan mereka,” katanya (Tabloid Mediaumat, edisi 19, 21 Agustus – 3 September 2009).<br />
Dalam buku The Fine Art of Prapaganda, Alfred McClung Lee &amp; Alizabeth Briant Lee, 1939, dikemukakan beberapa teknis propaganda yang sering dilakukan untuk melakukan penyesatan opini.<br />
Pertama; Nama julukan (name calling). Istilah muslim garis keras, radikal, ekstremis, moderat digunakan sebagai politik belah bambu oleh Barat. Sehingga umat Islam terpecah belah. Media yang terkooptasi seolah mendapatkan pembenaran untuk berani menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya sumir. Misalnya mereka menggambarkan bahwa teroris itu adalah aktivis Islam, berasal dari pesantren, guru ngaji, orangnya berjenggot, istrinya berkerudung atau bercadar, dan sebagainya. Semua mengarah kepada stigmatisasi negatif terhadap Islam. Padahal di persidangan kasus terorisme menunjukkan tidak semua orang yang dianggap teroris memiliki ciri-ciri seperti itu.<br />
Kedua; Generalitas gemerlapan (glittering generality). Teknik menghubungkan sesuatu dengan ‘kata yang baik’ dipakai untuk membuat sasaran menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti. Istilah demokratisasi dunia Islam adalah generalitas yang paling disukai oleh Barat, untuk mendukung ide kapitalismenya dalam menyekulerkan dunia Islam.</p>
<p>Ketiga; Pengalihan (transfer). teknik membawa otoritas, dukungan, gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima. Media tidak mengkritisi mengapa pengumuman hasil tes DNA Noordin M Top diumumkan persis pada hari Mahkamah Konstitusi (MK) menolak hasil gugatan kecurangan Pilpres. “Jadi seakan ada upaya pengalihan opini dari kecurangan pilpres. Rupanya upaya tersebut berhasil. Karena semua terfokus ke hasil DNA itu,” jelas Satrio Arismunandar, pendiri AJI yang juga mantan wartawan BBC.</p>
<p>Keempat; Orang sederhana (plain folks). teknik propaganda yang dipakai pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan sasaran bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari ‘rakyat’. Sering terjadi kekeliruan. Pemerhati media, Arya Gunawan menyebut salah satu dosa media massa yaitu tidak mau mencari sumber berita alternatif atau konsentris pertama. Kian terlihat ketika mereka menampilkan narasumber yang itu-itu juga. Sebut saja Hendropriyono, Nasir Abbas, Al Chaidar, atau Suryadharma secara berulang-ulang. Kalaupun ada narasumber yang kritis, mereka tidak mendapatkan porsi yang layak.<br />
Tidak berlebihan bila ada yang menyebut media massa jadi corong aparat. Ada petinggi sebuah stasiun televisi yang kini sedang naik daun memiliki hubungan kedekatan dengan Densus 88. ketika penggerebekan Azahari di Batu, Malang, tahun 2005, ia pula yang mendapatkan gambar eksklusif. Karena tekanan eksklusif demi rating, media massa tak segan-segan embedded. “Kacamatanya pasti kacamata yang ditumpangi kan? Tidak ada verifikasi, tak perlu investigasi, semua disuapi oleh narasumber dan ditelan mentah-mentah,” kata Sirikit Syah, pendiri Lembaga Konsumen Media (LKM) Media Watch.<br />
Kelima; Kesaksian (testimony). Di sini dikemukakan seseorang atau lembaga yang dihargai untuk mendukung atau mengecam suatu gagasan atau kesatuan politik. Diharapkan sasaran mempercayainya karena hal ini disampaikan oleh yang ‘berwenang’. Propagandis, misalnya, menggunakan narasumber yang diberi gelar ‘pakar’, ‘ahli’, ‘ilmuwan’, ‘yang berpengalaman’, atau ‘saksi langsung’ untuk menambah keyakinan para pendengarnya.<br />
Untuk menambah keyakinan pembaca tentang adanya jaringan Jamaah Islamiyah atau Jaringan al-Qaedah di Asia Tenggara, media massa Barat merujuk pada pendapat orang yang mereka sebut sebagai ‘pakar teroris’ seperti Rohan Gunaratma. Dia disebut ‘pakar’ antaralain karena melakukan studi tentang terorisme atau mengarang buku tentang terorisme. Di sini tidak dipersoalkan, apakah buku yang dikarangnya memberikan bukti-bukti ilmiah atau tidak. Demikian juga untuk menambah keyakinan pendengar tentang ‘pemahaman Islam yang benar’—maksudnya yang sejalan dengan kepentingan Barat, media massa Barat merujuk pada orang yang mereka sebut dengan ‘pakar Islam’ atau ‘cendekiawan Muslim. Padahal, yang dirujuk sering merupakan antek Barat yang dicangkokkan di tubuh umat. Di sini umat Islam penting untuk tetap melihat argumentasi dari ‘sumber-sumber’ tersebut, bukan terpesona dengan gelar-gelarnya.<br />
Di samping itu, untuk menambah kepercayaan, media juga merujuk pada lembaga-lembaga swasta yang kesannya independen. Padahal, pada praktiknya, lembaga ini merupakan lembaga pesanan yang menjalankan proyek-proyek penelitian berskala besar dengan biaya pemerintah. Banyak studi-studi tentang Islam atau Timur Tengah yang disponsori oleh pemerintah AS atau organisasi donor yang berafiliasi kepada pemerintah AS. Lembaga-lembaga yang terkesan independen ini kemudian memperkuat pandangan pemerintah AS dan mereka kemudian menjadi rujukan media massa. Di Indonesia, sudah diketahui umum, pada masa Orde Baru, untuk memperkuat kebijakan pemerintah yang otoriter dan korup, penguasa sering merujuk pada CSIS. Padahal, CSIS adalah lembaga think tank yang diketahui berhubungan dengan penguasa Orba pada waktu itu. Dalam kampanye AS sekarang ini juga banyak lembaga-lembaga yang mendapat bayaran dari Barat untuk mendukung propaganda Barat. Di AS beberapa lembaga ‘independen’ diketahui memiliki hubungan erat dengan pemerintah seperti Heritage Foundation.<br />
Keenam; Pilihan (card staking). meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta. Media tak memihak Islam. Ketika kaum muslim di Xinjiang, China, dibantai beberapa waktu lalu, pemberitaan media massa sangat minim. Padahal dari sisi jumlah korban, jauh lebih besar dari bom JW Marriot dan Ritz Carlton. Korban tewas versi pemerintah mencapai 200 orang. Perhatikan pula proporsi pemberitaan tentang penindasan Israel di Palestina yang berlangsung setiap hari. Atau serangan brutal AS di lembah Swat, Pakistan, dan juga Afganistan. Bandingkan pula hal itu dengan kasus terbunuhnya seorang pengunjuk rasa di Teheran yang demikian massif beritanya di media massa. Terorisme negara yang dilakukan oleh AS, Israel, dan Barat tak mendapat porsi pemberitaan yang memadai. Padahal korbannya jauh lebih luar biasa. Korban tewas akibat agresi AS di Irak mencapai 750.000 orang dan satu juta orang cacat. Puluhan ribu orang tewas di Afganistan. Hal yang sama terjadi di Palestina.</p>
<p>Ketujuh; Ikut pihak yang banyak (bandwagon). Teknik ini memanfaatkan keinginan pendengar untuk ‘menjadi bagian’ atau ‘satu sikap’ dengan orang banyak. Politik stick and carrots yang digembar-gemborkan AS sebagai adikuasa internasional, ditelan mentah-mentah. Di belakang Amerika, atau di belakang teroris. Semua dipaksa harus sesuai dengan ideologi barat, termasuk insan pers yang belum paham Islam. Media menjadi agen dan corong dari agenda-agenda barat untuk melakukan counter dan penetrasi opini di tengah masyarakat.<br />
Menyikapi hal ini, media massa harus lebih bijak, berimbang dan mengedepankan independensi serta selalu melakukan verifikasi. Diharapkan media menjadi pelopor dalam menguak kebenaran hakiki. Semoga. []<br />
Oleh: Rio An</p>
<p>Sumber: infokom HTi, Media Umat, Buku-buku Komunikasi Politik</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=72&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/20/media-dan-propaganda-teror/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/737479990abd6386ee4ab5fc6fd2046b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apiideologi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/media.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">media</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renungan Guru</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/12/renungan-guru/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/12/renungan-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 22:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>motipasti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[GURU; digugu dan ditiru. Kata ini sering melekat pada GURU. Tapi berita jumat pagi (11-12-09) di Trans7 benar-benar membuatku prihatin lagi. Ada oknum GURU yang menghukum muridnya (merendamnya selama 2 jam) karena pulang dari asrama tanpa izin, kemudian si murid sakit demam tinggi dan terkena typus. Sebagai renungan, kita masih ingat dengan GURU matematika di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=68&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/20090517guru.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-156" title="20090517Guru" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/20090517guru.jpg?w=300&#038;h=199" alt="guru" width="300" height="199" /></a>GURU; digugu dan ditiru. Kata ini sering melekat pada GURU. Tapi berita jumat pagi (11-12-09) di Trans7 benar-benar membuatku prihatin lagi. Ada oknum GURU yang menghukum muridnya (merendamnya selama 2 jam) karena pulang dari asrama tanpa izin, kemudian si murid sakit demam tinggi dan terkena typus.</p>
<p>Sebagai renungan, kita masih ingat dengan GURU matematika di Jawa Timur yang menghukum muridnya sampai kaki murid itu patah. Seorang GURU di Agam-Muara Enim Sumsel membanting 4 muridnya karena memecahkan pot bunga. Seorang siswa SD KELAS 2 di Duren Sawit-Jakarta patah giginya setelah dibenturkan kepalanya oleh si GURU, hanya karena tidak bisa mengeja kalimat. Seorang Pembina pramuka mencabuli anak binaannya. Dan masih banyak yang lain. Naudzubillah ya Rabb&#8230;</p>
<p>Ada apa dengan GURU?? Sebenarnya, kalian itu pendidik atau penghancur anak bangsa?<span id="more-68"></span></p>
<p>Sebenarnya, GURU tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena tidak semua GURU seperti itu. Masih banyak GURU berhati mulia dan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Karena sistem perekrutan GURU jg banyak salah kaprah. Alumni Fakultas Tarbiyah / Kependidikan banyak dijajah oleh mereka yang ‘gagal’ di fakultasnya, kemudian menjajah ‘kewenangan’ alumni Tarbiyah. Karena ‘tidak laku’ dipasaran, kemudian masuk ke bidang keguruan. Bukan hanya teori yang dibutuhkan GURU sebagai pendidik, tapi ada Hidden Skill yang harus dimiliki. Semisal teladan, akhlak dan kepribadian, psikologi kependidikan dan lain-lain.</p>
<p>Menghukum murid sembarangan adalah kesalahan. Jika ia diajari dengan kekerasan, maka ia akan belajar kekerasan. Wahai guru, untuk apa semua kekerasan itu? Jika untuk mendisiplinkan, cara ini salah kaprah. Jika untuk menunjukkan wibawa, cara ini kuranglah tepat.</p>
<p>Murid-murid zaman modern tidaklah tepat diberi punishment yang berbau fisik dan kekerasan. Saya sendiri adalah seorang guru atau pembina di sebuah yayasan, ada kesalahan dari anak didik itu memang wajar. Dan sebagai hukuman yang biasa saya berikan adalah sebagai berikut:</p>
<p>Menyalin 100 lafadz basmallah dalam selembar kertas. Membersihkan aula, Membuat ringkasan dari sebuah buku di perpus, Menyalin 25 surat al-Fatihah dalam kertas, Membersihkan halaman, Berdiri selama 20 menit di aula, Membuat karangan minimal 2 halaman, Membaca al-Quran selama 30 menit, Mengisi kultum sebelum maghrib atau sesudah subuh, Membaca 1 buku di perpus sampai tuntas, Mentranslite Setengah halaman buku berbahasa Inggris atau Arab. Dll.</p>
<p>Sebagai guru, pendidik atau Pembina, marilah kita kreatif dan inovatif.</p>
<p>So, apakah kamu punya inovasi yang tepat untuk mendisiplinkan murid-murid?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=68&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/12/renungan-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6da102d7f6b12fb56cda3937c618756f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">motipasti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/20090517guru.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">20090517Guru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis dan Berfikir Serius</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/menulis-dan-berfikir-serius/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/menulis-dan-berfikir-serius/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 00:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apiideologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[berfikir]]></category>
		<category><![CDATA[ideologis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Menulis, masih terkesan sulit, rumit dan seolah hanya orang-orang yang serius bisa melakukannya. Kesan sulit itu berawal dari persepsi terhadap sesuatu yang kita nilai sulit. Kesulitan akan terus menjadi tembok besar, bila kita tak mau serius untuk menghancurkannya. Bagi penulis ideologis, menulis tak sekedar suka-suka ataupun meningkatkan pengetahuan dan tsaqofah saja, tetapi perubahan menuju kehidupan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=66&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/fikir1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-86" title="fikir" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/fikir1.jpg?w=260&#038;h=208" alt="" width="260" height="208" /></a>Menulis, masih terkesan sulit, rumit dan seolah hanya orang-orang yang serius bisa melakukannya. Kesan sulit itu berawal dari persepsi terhadap sesuatu yang kita nilai sulit. Kesulitan akan terus menjadi tembok besar, bila kita tak mau serius untuk menghancurkannya.</p>
<p>Bagi penulis ideologis, menulis tak sekedar suka-suka ataupun meningkatkan pengetahuan dan tsaqofah saja, tetapi perubahan menuju kehidupan Islam yang kita harapkan. Untuk itulah dibutuhkannya keseriusan kita dalam menulis. Bila kita serius, pasti bisa menulis, dan tulisan kita pasti berujung pada perubahan yang kita inginkan.</p>
<p>Keseriusan dalam menulis, juga tampak dalam keseriusan kita dalam berfikir karena antara menulis dan berfikir tak bisa dipisahkan. Sebagaimana yang kita pahami, keseriusan merupakan faktor yang harus ada dalam aktivitas berpikir. Tanpa ada faktor keseriusan, aktivitas berpikir hanya akan sia-sia dan main-main belaka, serta hanya jadi rutinitas yang terus-menerus karena kebiasaan saja. Rutinitas berpikir seperti ini hanya akan menjadikan seorang pemikir menganggap baik kehidupan yang dijalaninya. Lebih dari itu, ia pun akan menjauhkan setiap gagasan tentang perubahan. Oleh karena itu, keseriusan dalam berfikir harus dimiliki setiap muslim. Hanya dengan berfikir serius lah, setiap tujuan kita akan bisa terwujud.<span id="more-66"></span></p>
<p>Keseriusan dalam berfikir akan menjadikan tulisan kita mampu menyentuh permasalahan sekaligus menyelesaikannya, walau masih dalam uraian kata. Tulisan serius adalah hasil dari berfikir serius. Keseriusan akan lebih baik lagi, jika didasari oleh ideologi dan kedalaman berfikir kita terhadap masalah tersebut.</p>
<p>Perlu diingat, Islam itu sempurna dan mudah difahami. Siapapun mampu menjangkau dan mengimani serta melaksanakannya secara menyeluruh. Inilah kelebihan Islam atas agama manapun, Islam sesuai dengan manusia baik secara akal maupun fitrah. Jadi, menulis tentang Islam seharusnya lebih mudah daripada menulis tentang yang lain, karena sudah sesuai dengan kita semua. Tulisannya pun seharusnya lebih baik, karena ditulis berdasarkan hal yang terbaik. Kini, hanya dibutuh keseriusan, agar kita semua bisa menjadi penulis ideologis. Siap???</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=66&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/menulis-dan-berfikir-serius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/737479990abd6386ee4ab5fc6fd2046b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apiideologi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/fikir1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">fikir</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagi teman2 yang sudah jadi kontributor &#8230;</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/bagi-teman2-yang-sudah-jadi-kontributor/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/bagi-teman2-yang-sudah-jadi-kontributor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 22:52:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pinterpol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Status]]></category>
		<category><![CDATA[kontributor]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/bagi-teman2-yang-sudah-jadi-kontributor/</guid>
		<description><![CDATA[Bagi teman2 yang sudah jadi kontributor di blog apiideologi, ayo coba posting langsung. Bila tak sempat menulis artikel, komentar-komentar seperti di facebook juga boleh. Semoga membawa manfaat yang besar bagi pencerahan kita semua.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=64&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/penulis.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-94" title="penulis" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/penulis.jpg?w=600" alt=""   /></a>Bagi teman2 yang sudah jadi kontributor di blog apiideologi, ayo coba posting langsung. Bila tak sempat menulis artikel, komentar-komentar seperti di facebook juga boleh. Semoga membawa manfaat yang besar bagi pencerahan kita semua.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=64&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/11/bagi-teman2-yang-sudah-jadi-kontributor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/918000d9569f37d1854453a0d5df6bd3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pinterpol</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/penulis.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">penulis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Para Penolak Khilafah</title>
		<link>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/09/menyikapi-para-penolak-khilafah/</link>
		<comments>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/09/menyikapi-para-penolak-khilafah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 13:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>apiideologi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://apiideologi.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Setelah puluhan tahun kata khilafah asing dari pendengaran kaum muslim, kini telah menjadi bahan pembicaraan bagi dunia, baik muslim maupun non muslim. Khilafah adalah sistem pemerintahan islam untuk umat islam sedunia. Para ahli fikih menjelaskan khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menegakkan syariah islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=59&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/ataturk1-copy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-88" title="ataturk1-copy" src="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/ataturk1-copy.jpg?w=260&#038;h=195" alt="" width="260" height="195" /></a>Setelah puluhan tahun kata khilafah asing dari pendengaran kaum muslim, kini telah menjadi bahan pembicaraan bagi dunia, baik muslim maupun non muslim. Khilafah adalah sistem pemerintahan islam untuk umat islam sedunia. Para ahli fikih menjelaskan khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menegakkan syariah islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Selama lebih dari 1300 tahun atau 13 abad, ummat islam pernah menjalankan sistem khilafah dan tepat 3 Maret 1924 M khilafah pun lenyap secara resmi oleh Mustafa kemal CS laknatullah !!<br />
Setelah melihat berbagai fakta saat ini, kini sudah begitu banyak kaum muslim yang sadar bahwa khilafah adalah sebuah kewajiban dan kebutuhan yang harus dikembalikan. Gaung khilafahpun telah tersebar dan tak dapat terbendung di setiap negeri-negeri muslim yang ada di dunia. Kafir baratpun mengakuinya bahwa saat ini ummat islam mulai bangkit dengan syariah dan khilafah.<span id="more-59"></span><br />
Ada beberapa alasan tentang dukungan pengembalian khilafah. Pertama, umat islam saat ini tidak mempunyai khilafah, seperti sekarang hanya menjadi lahan imprealisme bagi orang-orang kafir barat. Kondisi ini tentunya jauh berbeda tatkala umat islam di bawah satu kepemimpinan atau khilafah. Saat itu umat islam memimpin umat-umat lainnya tanpa diskriminasi serta mendakwakan islam ke seluruh dunia. Kedua, pemikiran bahwa ummat islam bisa hidup normal tanpa khilafah, ternyata baru timbul awal abad XX. Bagi ummat islam sebelumnya, tidak ada keraguan terhadap khilafah islam, bahkan mereka berfikir tanpa khilafah akan menjadi ” disaster / malapetaka” bagi ummat islam. Semua ulama sepakat tentang wajibnya khilafah islam, baik dari kalangan <em>Ahlusunnah wal jamaah</em>, <em>syi’ah</em>, <em>khawarij,</em> maupun <em>muktazilah.</em> Dan hukum mengankat khilafah adalah wajib. Ketiga, masalah khilafah punya landasan yang kuat secara syara’. Dalam hal ini, banyak pakar hukum islam seperti; Imam Mawardi, Ibnu Ttaimiyah, ibnu Khaldun, Asbu Ya’la di masa pertengahan yang menekankan wajibnya khilafah. Sementara Syaikh Ali Belhaj, Syaikh Taqiyudin An-Nabhani, Dr. Dhiayauddin Rais, dan Abdul A’la Al- Maududi adalah para pakar sekarang yang menekankan wajibnya khilafah diterapkan.</p>
<p>Disamping ada yang mendukung, adapula beberapa kalangan yang menentang atau menolak pengembalian khilafah, diantara alasan tersebut; pertama, sejarah kelam khilafah sebagaimana di masa Yazid Bin Mu’awiyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Kedua, banyaknya pendapat tentang khilafah. Banyaknya pendapat tentang khilafah, maka dikhawatirkan akan timbul kebingungan penerapan khilafah. Ketiga, anggapan bahwa khilafah adalah ”fiction alias utopis” dengan menalarkan; apakah mungkin islam akan mampu membangun sebuah peradaban global?.<br />
Dalam permasalahan ini, tentu dibutuhkan sebuah jawaban yang rasional. Bagaimana menyikapi perbedaan tersebut?. Tentang dukungan terhadap pengembalian khilafah nampaknya sulit untuk dibantah, sebab mengingat landasan yang diberikan cukup kuat. Adanya tiga alasan dukungan tersebut berarti khilafah mendapat legality / keabsahan dari tiga perspektif sekaligus, yaitu empiris, historis, dan syar’i.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan alasan penentang khilafah, kita bisa lihat apakah alasan tersebut relevan atau tidak?. Alasan pertama, sejarah kelam khilafah. Dalam hal ini, kita juga bisa membandingkan dengan barat. Mengapa dengan barat?, karena saat ini dunia hampir dikuasai dengan penerapan demokrasi yang bersumber dari barat. Barat yang menerapkan demokrasi sekarang juga bukan tak sadar sejarah kelam demokrasi Aristoteles dan Plato menyatakan aristokrasi lebih baik dari demokrasi. Agus Caesar bahkan memilih sistem kekaisaran, karena kapok dengan demokrasi yang menjadikan para politisi Roma saling sikut dan rakyat Romawi terbelah. Socrates mengecam demokrasi karena hanya mengandalkan jumlah dan kurang menghargai pemikiran. Seringnya pembunuhan terjadi pada saat kampanye di India dan Bangladesh juga realitas demokrasi. Namaun demikian, mereka tetap mempertahankan demokrasi. Tapi, mengapa dengan ummat islam lantas ragu dengan khilafah?. Harus diakui, memang ada beberapa sisi kelam masa khilafah terutama zaman Umayah dan Abbasiyah. Namun hal tersebut adalah penyimpangan. Masalahnya, kenapa kita mau menghindari penyimpangan lalu menggantikan dengan pengingkaran?. Mengapa tidak diganti dengan pelurusan?. Ibarat mau ke Jepang tapi naik pesawatnya menuju ke Britain, apakah kita akan meneruskan perjalanannya atau kembali menaiki pesawat menuju jepang?. Terlepas dari penyimpangan yang pernah terjadi, bukankah ada realitas yang benar, yaitu zaman Rasulullah SAW dan para khulafaur Rasyidin. Mengapa kita tidak merujuk pada mereka?.</p>
<p>Alasan kedua, banyaknya pendapat tentang khilafah akan menjadi kebingungan. Padahal barat yang menegakkan konsep demokrasipun dilatari banyak pendapat. Mereka memiliki banyak ilmuwan yang pendapatnya malah sering bertentangan. Tengok saja john Locke, JJ Roseau, Montesqueui,Voltaire, Thomas Jefferson dan banyak pakar lainnya bukan satu pendapat. Pendapat Voltaire yang beraliran rasional bahkan bertentangan dengan Rosseau yang beraliran sosial romantik. Namun demikian, mereka tetap gencar menyerukan konsep mereka. Banyaknya pendapat tidak menjadi alasan tapi justru menjadi referensi sehinnga mereka pilih konsep yang danggap paling tepat. Bagi umat islam, tentu ini layak jadi pelajaran. Mengapa banyaknya konsep justru jadi alasan? Bukankah dengan banyaknya referensi belajar justru lebih mudah, karena bisa melakukan studi banding dan tidak harus repot-repot menggali hukum sendiri?.</p>
<p>Alasan ketiga, menganggap bahwa khilafah islamiyah sebuah fiction or utopis. Tentang hal ini kita bisa lihat negara adikuasa AS sekarang, ternyata 3 abad silah hanyalah sebuah ide. Lihat saja Unisoviet yang berjaya abad XX juga hanya ide. Inggris, adikuasa abad XIX hanya negara kecil dengan penduduk jarang yang dipenuhi rumput liar pada zaman perang salib. Khilafah islamiyah pada masa umar bi Abdul Aziz adikuasa tahun 1001 H, Tahun 1 H baru sebagai negara kota di Madinah, saat Rasulullah SAW hijrah. Bila demikian, lantas mangapa ragu untuk berfikir khilafah islam pada zaman sekarang ? bukankah jauhnya jarak langkah anda di awali dengan selangkah ? think about that !<br />
Apakah masalah-masalah yang ada akan menjadikan alasan anda untuk tidak melakukan apa-apa atau masalah tersebut justru di jadikan tantangan yang harus ditangani demi mencapai tujuan mulia?. Ayo bergerak, gunakan potensi yang anda miliki sebelum terlambat. Kematian yang setiap saat menghantui pemikiran manusia seharusnya menjadi motivasi tuk mendukung dan berjuang menegakkan khilafah, bukan justru menjadi penolak. Mari berjuang bersama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, demi kemuliaan seluruh alam semesta. Allahu Akbar! <em>Wallahu ’alambiashawab.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>By </em>Atiqah Nur Ghaziyah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/apiideologi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/apiideologi.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=apiideologi.wordpress.com&amp;blog=8446608&amp;post=59&amp;subd=apiideologi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://apiideologi.wordpress.com/2009/12/09/menyikapi-para-penolak-khilafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/737479990abd6386ee4ab5fc6fd2046b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">apiideologi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://apiideologi.files.wordpress.com/2009/12/ataturk1-copy.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ataturk1-copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
