Skip to content

Menyikapi Para Penolak Khilafah

Desember 9, 2009

Setelah puluhan tahun kata khilafah asing dari pendengaran kaum muslim, kini telah menjadi bahan pembicaraan bagi dunia, baik muslim maupun non muslim. Khilafah adalah sistem pemerintahan islam untuk umat islam sedunia. Para ahli fikih menjelaskan khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menegakkan syariah islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Selama lebih dari 1300 tahun atau 13 abad, ummat islam pernah menjalankan sistem khilafah dan tepat 3 Maret 1924 M khilafah pun lenyap secara resmi oleh Mustafa kemal CS laknatullah !!
Setelah melihat berbagai fakta saat ini, kini sudah begitu banyak kaum muslim yang sadar bahwa khilafah adalah sebuah kewajiban dan kebutuhan yang harus dikembalikan. Gaung khilafahpun telah tersebar dan tak dapat terbendung di setiap negeri-negeri muslim yang ada di dunia. Kafir baratpun mengakuinya bahwa saat ini ummat islam mulai bangkit dengan syariah dan khilafah.
Ada beberapa alasan tentang dukungan pengembalian khilafah. Pertama, umat islam saat ini tidak mempunyai khilafah, seperti sekarang hanya menjadi lahan imprealisme bagi orang-orang kafir barat. Kondisi ini tentunya jauh berbeda tatkala umat islam di bawah satu kepemimpinan atau khilafah. Saat itu umat islam memimpin umat-umat lainnya tanpa diskriminasi serta mendakwakan islam ke seluruh dunia. Kedua, pemikiran bahwa ummat islam bisa hidup normal tanpa khilafah, ternyata baru timbul awal abad XX. Bagi ummat islam sebelumnya, tidak ada keraguan terhadap khilafah islam, bahkan mereka berfikir tanpa khilafah akan menjadi ” disaster / malapetaka” bagi ummat islam. Semua ulama sepakat tentang wajibnya khilafah islam, baik dari kalangan Ahlusunnah wal jamaah, syi’ah, khawarij, maupun muktazilah. Dan hukum mengankat khilafah adalah wajib. Ketiga, masalah khilafah punya landasan yang kuat secara syara’. Dalam hal ini, banyak pakar hukum islam seperti; Imam Mawardi, Ibnu Ttaimiyah, ibnu Khaldun, Asbu Ya’la di masa pertengahan yang menekankan wajibnya khilafah. Sementara Syaikh Ali Belhaj, Syaikh Taqiyudin An-Nabhani, Dr. Dhiayauddin Rais, dan Abdul A’la Al- Maududi adalah para pakar sekarang yang menekankan wajibnya khilafah diterapkan.

Disamping ada yang mendukung, adapula beberapa kalangan yang menentang atau menolak pengembalian khilafah, diantara alasan tersebut; pertama, sejarah kelam khilafah sebagaimana di masa Yazid Bin Mu’awiyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah. Kedua, banyaknya pendapat tentang khilafah. Banyaknya pendapat tentang khilafah, maka dikhawatirkan akan timbul kebingungan penerapan khilafah. Ketiga, anggapan bahwa khilafah adalah ”fiction alias utopis” dengan menalarkan; apakah mungkin islam akan mampu membangun sebuah peradaban global?.
Dalam permasalahan ini, tentu dibutuhkan sebuah jawaban yang rasional. Bagaimana menyikapi perbedaan tersebut?. Tentang dukungan terhadap pengembalian khilafah nampaknya sulit untuk dibantah, sebab mengingat landasan yang diberikan cukup kuat. Adanya tiga alasan dukungan tersebut berarti khilafah mendapat legality / keabsahan dari tiga perspektif sekaligus, yaitu empiris, historis, dan syar’i.

Lalu bagaimana dengan alasan penentang khilafah, kita bisa lihat apakah alasan tersebut relevan atau tidak?. Alasan pertama, sejarah kelam khilafah. Dalam hal ini, kita juga bisa membandingkan dengan barat. Mengapa dengan barat?, karena saat ini dunia hampir dikuasai dengan penerapan demokrasi yang bersumber dari barat. Barat yang menerapkan demokrasi sekarang juga bukan tak sadar sejarah kelam demokrasi Aristoteles dan Plato menyatakan aristokrasi lebih baik dari demokrasi. Agus Caesar bahkan memilih sistem kekaisaran, karena kapok dengan demokrasi yang menjadikan para politisi Roma saling sikut dan rakyat Romawi terbelah. Socrates mengecam demokrasi karena hanya mengandalkan jumlah dan kurang menghargai pemikiran. Seringnya pembunuhan terjadi pada saat kampanye di India dan Bangladesh juga realitas demokrasi. Namaun demikian, mereka tetap mempertahankan demokrasi. Tapi, mengapa dengan ummat islam lantas ragu dengan khilafah?. Harus diakui, memang ada beberapa sisi kelam masa khilafah terutama zaman Umayah dan Abbasiyah. Namun hal tersebut adalah penyimpangan. Masalahnya, kenapa kita mau menghindari penyimpangan lalu menggantikan dengan pengingkaran?. Mengapa tidak diganti dengan pelurusan?. Ibarat mau ke Jepang tapi naik pesawatnya menuju ke Britain, apakah kita akan meneruskan perjalanannya atau kembali menaiki pesawat menuju jepang?. Terlepas dari penyimpangan yang pernah terjadi, bukankah ada realitas yang benar, yaitu zaman Rasulullah SAW dan para khulafaur Rasyidin. Mengapa kita tidak merujuk pada mereka?.

Alasan kedua, banyaknya pendapat tentang khilafah akan menjadi kebingungan. Padahal barat yang menegakkan konsep demokrasipun dilatari banyak pendapat. Mereka memiliki banyak ilmuwan yang pendapatnya malah sering bertentangan. Tengok saja john Locke, JJ Roseau, Montesqueui,Voltaire, Thomas Jefferson dan banyak pakar lainnya bukan satu pendapat. Pendapat Voltaire yang beraliran rasional bahkan bertentangan dengan Rosseau yang beraliran sosial romantik. Namun demikian, mereka tetap gencar menyerukan konsep mereka. Banyaknya pendapat tidak menjadi alasan tapi justru menjadi referensi sehinnga mereka pilih konsep yang danggap paling tepat. Bagi umat islam, tentu ini layak jadi pelajaran. Mengapa banyaknya konsep justru jadi alasan? Bukankah dengan banyaknya referensi belajar justru lebih mudah, karena bisa melakukan studi banding dan tidak harus repot-repot menggali hukum sendiri?.

Alasan ketiga, menganggap bahwa khilafah islamiyah sebuah fiction or utopis. Tentang hal ini kita bisa lihat negara adikuasa AS sekarang, ternyata 3 abad silah hanyalah sebuah ide. Lihat saja Unisoviet yang berjaya abad XX juga hanya ide. Inggris, adikuasa abad XIX hanya negara kecil dengan penduduk jarang yang dipenuhi rumput liar pada zaman perang salib. Khilafah islamiyah pada masa umar bi Abdul Aziz adikuasa tahun 1001 H, Tahun 1 H baru sebagai negara kota di Madinah, saat Rasulullah SAW hijrah. Bila demikian, lantas mangapa ragu untuk berfikir khilafah islam pada zaman sekarang ? bukankah jauhnya jarak langkah anda di awali dengan selangkah ? think about that !
Apakah masalah-masalah yang ada akan menjadikan alasan anda untuk tidak melakukan apa-apa atau masalah tersebut justru di jadikan tantangan yang harus ditangani demi mencapai tujuan mulia?. Ayo bergerak, gunakan potensi yang anda miliki sebelum terlambat. Kematian yang setiap saat menghantui pemikiran manusia seharusnya menjadi motivasi tuk mendukung dan berjuang menegakkan khilafah, bukan justru menjadi penolak. Mari berjuang bersama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, demi kemuliaan seluruh alam semesta. Allahu Akbar! Wallahu ’alambiashawab.

By Atiqah Nur Ghaziyah

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. ndiek permalink
    April 1, 2010 5:40 pm

    intinya ?

  2. ndiek permalink
    April 1, 2010 5:41 pm

    intinya ki opo?

    • intanelwahdy permalink
      November 23, 2013 7:11 am

      Alhamdulillah, kalau lah setiap orang memiliki fikrah yang sama, perasaan yang sama kemudian di bawah naungan peraturan yang sama, maka tidak mustahil khilafah tertegak, tinggal menunggu masa saja.

      Keep spirit, I read this article before going to “Seminar on Perubahan Dunia menuju Izzil Islam wal Muslimin”
      Sebagai rujukan untuk moderator…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: