Skip to content

Menulis dan Berfikir Serius

Desember 11, 2009

Menulis, masih terkesan sulit, rumit dan seolah hanya orang-orang yang serius bisa melakukannya. Kesan sulit itu berawal dari persepsi terhadap sesuatu yang kita nilai sulit. Kesulitan akan terus menjadi tembok besar, bila kita tak mau serius untuk menghancurkannya.

Bagi penulis ideologis, menulis tak sekedar suka-suka ataupun meningkatkan pengetahuan dan tsaqofah saja, tetapi perubahan menuju kehidupan Islam yang kita harapkan. Untuk itulah dibutuhkannya keseriusan kita dalam menulis. Bila kita serius, pasti bisa menulis, dan tulisan kita pasti berujung pada perubahan yang kita inginkan.

Keseriusan dalam menulis, juga tampak dalam keseriusan kita dalam berfikir karena antara menulis dan berfikir tak bisa dipisahkan. Sebagaimana yang kita pahami, keseriusan merupakan faktor yang harus ada dalam aktivitas berpikir. Tanpa ada faktor keseriusan, aktivitas berpikir hanya akan sia-sia dan main-main belaka, serta hanya jadi rutinitas yang terus-menerus karena kebiasaan saja. Rutinitas berpikir seperti ini hanya akan menjadikan seorang pemikir menganggap baik kehidupan yang dijalaninya. Lebih dari itu, ia pun akan menjauhkan setiap gagasan tentang perubahan. Oleh karena itu, keseriusan dalam berfikir harus dimiliki setiap muslim. Hanya dengan berfikir serius lah, setiap tujuan kita akan bisa terwujud.

Keseriusan dalam berfikir akan menjadikan tulisan kita mampu menyentuh permasalahan sekaligus menyelesaikannya, walau masih dalam uraian kata. Tulisan serius adalah hasil dari berfikir serius. Keseriusan akan lebih baik lagi, jika didasari oleh ideologi dan kedalaman berfikir kita terhadap masalah tersebut.

Perlu diingat, Islam itu sempurna dan mudah difahami. Siapapun mampu menjangkau dan mengimani serta melaksanakannya secara menyeluruh. Inilah kelebihan Islam atas agama manapun, Islam sesuai dengan manusia baik secara akal maupun fitrah. Jadi, menulis tentang Islam seharusnya lebih mudah daripada menulis tentang yang lain, karena sudah sesuai dengan kita semua. Tulisannya pun seharusnya lebih baik, karena ditulis berdasarkan hal yang terbaik. Kini, hanya dibutuh keseriusan, agar kita semua bisa menjadi penulis ideologis. Siap???

Iklan
4 Komentar leave one →
  1. jurnal pemikiran permalink
    Januari 23, 2010 3:31 pm

    siap.

    menulislah untuk mengukir sejarah, menulislah untuk terus menyibukkan diri dalam dakwah. menulis yang bermuatan ideologis, menyentuh rasionalitas, dan kaya rasa argumentalis.

  2. die' permalink
    April 1, 2010 5:45 pm

    apa sih filsafatnya menulis dan membaca itu?

  3. April 3, 2010 8:50 am

    Suatu ungkapan dalam Islam bahwa tinta ulama lebih baik dari darah syuhada. Saodaraku kini kita telah masuk dalam suatu era peperangan baru, yaitu peperangan pemikiran dan ideologis. Saya sangat mendukung dengan program ini , kalau kaum salibis masih bisa mengatakan cinta kasih sebagai da’wahnya maka kita katakan diatas cinta dan diatas kasih itulah Islam, sebagai mana yang dijelaskan dalam surat An-Nuur , Allah adalah cahaya diatas cahaya…. inilah kami .. dan inilah Islam .

  4. Agustus 1, 2010 8:53 pm

    ikatlah ilmu dgn menulisnya…iqro’ bismirobbikallAdzi kholaq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: