Skip to content

Media dan Propaganda Teror

Desember 20, 2009

Masih segar dalam ingatan kita tatkala Indonesia menangis. Duka merebak dalam dada negeri yang terluka. Seperti lagu milik Slank, Jakarta meledak lagi, Jumat (17/7/09). Ledakan dahsyat di Mega Kuningan (Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton) telah mengakibatkan 9 orang meninggal dunia dan lebih dari 50 orang luka-luka. Yang terbaru dan sensasional mungkin penyergapan teroris oleh Densus 88 di Temanggung. Dua stasiun televisi meliput eksklusif secara langsung, sayang pemberitaannya meleset. Bukan Noordin M Top yang dilumpuhkan seperti yang diberitakan, namun seseorang bernama Ibrahim. Media jadi ‘agen kekerasan online’.
Seperti biasa pers Barat segera menuding Jama’ah Islamiyah (JI) dibalik bom Marriot dan Carlton. Situs The Australian, Jumat (17/7) menuding dengan Headline “Jakarta hotel blasts kill seven, bear mark of Jemaah Islamiah”. ABC News mengkaitkan dengan al Qaida.
Hingga kini, arah pemberitaan media massa di Indonesia pun sudah tertuju pada JI sebagai pelaku pengeboman itu. Pengeboman itu segera mendapatkan liputan luas di dunia internasional dan memancing kecaman-kecaman dari dunia internasional: Australia, AS, Filipina, dan sebagainya. Bahkan kemudian, banyak negara menawarkan bantuan untuk membantu Polri menyelidiki pengeboman itu.
Analisis yang diklaim sebagai pakar yang selama ini dikenal miring terhadap kelompok Islam seperti Rohan Gunaratna Direktur International Center for Political Violence and Terrorism Research (ICPVTR) di Nanyang Technological University Singapura langsung menuduh kelompok Islam. Menurut Gunaratna, pengeboman di Indonesia tidak akan berhenti sampai “pemimpin spiritual” JI, Abu Bakar Ba’asyir ditangkap dan dipenjara. Tudingan yang sama disuarakan Sidney Jones dari ICG. Bahkan mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono ketika diwawancara TV One (29/07/09), mengatakan bahwa terorisme terkait dengan Wahabi radikal, yang merupakan lingkungan yang cocok bagi terorisme.
Media dan Propaganda Teror

Teori propaganda belakangan ini kembali menguak tatkala media memberitakan rentetan aksi-aksi bom yang terjadi di Indonesia maupun di luar negeri. Menarik diperbincangkan karena—oleh publik—media diharapkan mampu menguak berbagai misteri yang meliputi peristiwa-peristiwa tersebut, terutama siapa otak pelaku pengeboman tersebut. Minimal memberikan fakta-fakta yang menggiring keluarnya cahaya kebenaran. Namun tanpa sadar, banyak media malah ikut terpengaruh opini yang berkembang dan membebek common sense, Independensinya tergeser karena pragmatisme. Media massa akhirnya turut terjerumus dalam mempropagandakan teror atas nama agama. Isu teror jadi komoditas jualan media yang laris manis.
Karena biasa menilai media massa itu selalu netral, obyektif dan jujur, banyak orang mudah percaya dengan apa saja yang dibawa media massa. Padahal dalam kenyataannya, media massa bukanlah ‘malaikat’ pembawa berita yang tak pernah salah. Bahkan justru media sering terperangkap propaganda barat terkait masalah terorisme. Teror bom Mega Kuningan dipersepsikan media sebagai bagian dari menegakkan syariah, padahal hal itu sejatinya bertentangan dengan syariah. Syariat Islam dengan tegas melarang siapapun dengan motif apapun membunuh orang tanpa hak, merusak milik pribadi dan fasilitas milik umum.
Isu terorisme yang digulirkan media mendistorsi makna jihad. Seakan-akan jihad adalah kejahatan. Padahal sangat jelas dalam Islam, secara syar’i jihad adalah perang di jalan Allah SWT untuk meninggikan kalimah-Nya. Jihad bukanlah kejahatan tapi kewajiban yang mulia. Tentu amal jihad harus mengikuti syarat, rukun, serta ketentuan-ketentuan syariah. Jihad antara lain dilakukan dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh-musuh Islam yang membunuh kaum muslim.

Yang jangan dilupakan selama ini tindakan yang diklaim terorisme masih diliputi oleh misteri. Serangan WTC yang dijadikan Bush alasan Perang Melawan Terorisme hingga saat ini masih dipertanyakan siapa sebenarnya pelakunya. CIA dan badan intelijen lainnya telah diketahui umum terlibat dalam berbagai konspirasi melakukan interfensi untuk menghancurkan sebuah negara seperti di Iran, Honduras, dan Irak. Dokumen keterlibatan CIA dalam berbagai insiden politik di Indonesia seperti peristiwa September tahun 1965 juga telah banyak terungkap.
Artinya adalah sangat memungkinkan berbagai terror bom di Indonesia ditunggangi oleh kepentingan negara Imperialis. Tentu saja itu bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak. Apalagi kalau dilihat dari siapa yang paling diuntungkan dalam ledakan bom ini, jelas adalah Amerika Serikat dan sekutunya. Ledakan bom yang terjadi di Indonesia justru dijadikan AS dan sekutunya sebagai alat dan propaganda untuk mengintervensi atas nama kerjasama perang melawan terorisme.
Penyesatan opini yang terjadi juga bagian dari propaganda. Propaganda sering diartikan sebagai suatu proses yang melibatkan seorang komunikator yang bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan perilaku penduduk yang menjadi sasarannya melalu simbol-simbol verbal, tulisan, dan perilaku; dengan menggunakan media massa. (Columbus dan Wolf, Pengantar Hubungan Internasional, hlm. 184). Media yang terjebak opini hanya akan menjadi corong negara imperialis untuk merubah sikap, pendapat, dan perilaku masyarakat sejalan dengan kepentingan Barat.
Pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Satrio Arismunandar menilai pemikiran insan media di Indonesia terkooptasi hegemoni asing. Menurutnya, walau ada beberapa media yang kritis, pada umumnya media massa betul-betul sangat mengandalkan dan mengikuti begitu saja penjelasan dari aparat keamanan. Tidak diverifikasi lagi, masuk akal atau tidak. “Jadi memang sedari awal sudah ikut arus sesuai apa yang diinginkan asing atau aparat keamanan. Atau bahkan media tersebut bekerjasama dengan mereka,” katanya (Tabloid Mediaumat, edisi 19, 21 Agustus – 3 September 2009).
Dalam buku The Fine Art of Prapaganda, Alfred McClung Lee & Alizabeth Briant Lee, 1939, dikemukakan beberapa teknis propaganda yang sering dilakukan untuk melakukan penyesatan opini.
Pertama; Nama julukan (name calling). Istilah muslim garis keras, radikal, ekstremis, moderat digunakan sebagai politik belah bambu oleh Barat. Sehingga umat Islam terpecah belah. Media yang terkooptasi seolah mendapatkan pembenaran untuk berani menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya sumir. Misalnya mereka menggambarkan bahwa teroris itu adalah aktivis Islam, berasal dari pesantren, guru ngaji, orangnya berjenggot, istrinya berkerudung atau bercadar, dan sebagainya. Semua mengarah kepada stigmatisasi negatif terhadap Islam. Padahal di persidangan kasus terorisme menunjukkan tidak semua orang yang dianggap teroris memiliki ciri-ciri seperti itu.
Kedua; Generalitas gemerlapan (glittering generality). Teknik menghubungkan sesuatu dengan ‘kata yang baik’ dipakai untuk membuat sasaran menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti. Istilah demokratisasi dunia Islam adalah generalitas yang paling disukai oleh Barat, untuk mendukung ide kapitalismenya dalam menyekulerkan dunia Islam.

Ketiga; Pengalihan (transfer). teknik membawa otoritas, dukungan, gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima. Media tidak mengkritisi mengapa pengumuman hasil tes DNA Noordin M Top diumumkan persis pada hari Mahkamah Konstitusi (MK) menolak hasil gugatan kecurangan Pilpres. “Jadi seakan ada upaya pengalihan opini dari kecurangan pilpres. Rupanya upaya tersebut berhasil. Karena semua terfokus ke hasil DNA itu,” jelas Satrio Arismunandar, pendiri AJI yang juga mantan wartawan BBC.

Keempat; Orang sederhana (plain folks). teknik propaganda yang dipakai pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan sasaran bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari ‘rakyat’. Sering terjadi kekeliruan. Pemerhati media, Arya Gunawan menyebut salah satu dosa media massa yaitu tidak mau mencari sumber berita alternatif atau konsentris pertama. Kian terlihat ketika mereka menampilkan narasumber yang itu-itu juga. Sebut saja Hendropriyono, Nasir Abbas, Al Chaidar, atau Suryadharma secara berulang-ulang. Kalaupun ada narasumber yang kritis, mereka tidak mendapatkan porsi yang layak.
Tidak berlebihan bila ada yang menyebut media massa jadi corong aparat. Ada petinggi sebuah stasiun televisi yang kini sedang naik daun memiliki hubungan kedekatan dengan Densus 88. ketika penggerebekan Azahari di Batu, Malang, tahun 2005, ia pula yang mendapatkan gambar eksklusif. Karena tekanan eksklusif demi rating, media massa tak segan-segan embedded. “Kacamatanya pasti kacamata yang ditumpangi kan? Tidak ada verifikasi, tak perlu investigasi, semua disuapi oleh narasumber dan ditelan mentah-mentah,” kata Sirikit Syah, pendiri Lembaga Konsumen Media (LKM) Media Watch.
Kelima; Kesaksian (testimony). Di sini dikemukakan seseorang atau lembaga yang dihargai untuk mendukung atau mengecam suatu gagasan atau kesatuan politik. Diharapkan sasaran mempercayainya karena hal ini disampaikan oleh yang ‘berwenang’. Propagandis, misalnya, menggunakan narasumber yang diberi gelar ‘pakar’, ‘ahli’, ‘ilmuwan’, ‘yang berpengalaman’, atau ‘saksi langsung’ untuk menambah keyakinan para pendengarnya.
Untuk menambah keyakinan pembaca tentang adanya jaringan Jamaah Islamiyah atau Jaringan al-Qaedah di Asia Tenggara, media massa Barat merujuk pada pendapat orang yang mereka sebut sebagai ‘pakar teroris’ seperti Rohan Gunaratma. Dia disebut ‘pakar’ antaralain karena melakukan studi tentang terorisme atau mengarang buku tentang terorisme. Di sini tidak dipersoalkan, apakah buku yang dikarangnya memberikan bukti-bukti ilmiah atau tidak. Demikian juga untuk menambah keyakinan pendengar tentang ‘pemahaman Islam yang benar’—maksudnya yang sejalan dengan kepentingan Barat, media massa Barat merujuk pada orang yang mereka sebut dengan ‘pakar Islam’ atau ‘cendekiawan Muslim. Padahal, yang dirujuk sering merupakan antek Barat yang dicangkokkan di tubuh umat. Di sini umat Islam penting untuk tetap melihat argumentasi dari ‘sumber-sumber’ tersebut, bukan terpesona dengan gelar-gelarnya.
Di samping itu, untuk menambah kepercayaan, media juga merujuk pada lembaga-lembaga swasta yang kesannya independen. Padahal, pada praktiknya, lembaga ini merupakan lembaga pesanan yang menjalankan proyek-proyek penelitian berskala besar dengan biaya pemerintah. Banyak studi-studi tentang Islam atau Timur Tengah yang disponsori oleh pemerintah AS atau organisasi donor yang berafiliasi kepada pemerintah AS. Lembaga-lembaga yang terkesan independen ini kemudian memperkuat pandangan pemerintah AS dan mereka kemudian menjadi rujukan media massa. Di Indonesia, sudah diketahui umum, pada masa Orde Baru, untuk memperkuat kebijakan pemerintah yang otoriter dan korup, penguasa sering merujuk pada CSIS. Padahal, CSIS adalah lembaga think tank yang diketahui berhubungan dengan penguasa Orba pada waktu itu. Dalam kampanye AS sekarang ini juga banyak lembaga-lembaga yang mendapat bayaran dari Barat untuk mendukung propaganda Barat. Di AS beberapa lembaga ‘independen’ diketahui memiliki hubungan erat dengan pemerintah seperti Heritage Foundation.
Keenam; Pilihan (card staking). meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta. Media tak memihak Islam. Ketika kaum muslim di Xinjiang, China, dibantai beberapa waktu lalu, pemberitaan media massa sangat minim. Padahal dari sisi jumlah korban, jauh lebih besar dari bom JW Marriot dan Ritz Carlton. Korban tewas versi pemerintah mencapai 200 orang. Perhatikan pula proporsi pemberitaan tentang penindasan Israel di Palestina yang berlangsung setiap hari. Atau serangan brutal AS di lembah Swat, Pakistan, dan juga Afganistan. Bandingkan pula hal itu dengan kasus terbunuhnya seorang pengunjuk rasa di Teheran yang demikian massif beritanya di media massa. Terorisme negara yang dilakukan oleh AS, Israel, dan Barat tak mendapat porsi pemberitaan yang memadai. Padahal korbannya jauh lebih luar biasa. Korban tewas akibat agresi AS di Irak mencapai 750.000 orang dan satu juta orang cacat. Puluhan ribu orang tewas di Afganistan. Hal yang sama terjadi di Palestina.

Ketujuh; Ikut pihak yang banyak (bandwagon). Teknik ini memanfaatkan keinginan pendengar untuk ‘menjadi bagian’ atau ‘satu sikap’ dengan orang banyak. Politik stick and carrots yang digembar-gemborkan AS sebagai adikuasa internasional, ditelan mentah-mentah. Di belakang Amerika, atau di belakang teroris. Semua dipaksa harus sesuai dengan ideologi barat, termasuk insan pers yang belum paham Islam. Media menjadi agen dan corong dari agenda-agenda barat untuk melakukan counter dan penetrasi opini di tengah masyarakat.
Menyikapi hal ini, media massa harus lebih bijak, berimbang dan mengedepankan independensi serta selalu melakukan verifikasi. Diharapkan media menjadi pelopor dalam menguak kebenaran hakiki. Semoga. []
Oleh: Rio An

Sumber: infokom HTi, Media Umat, Buku-buku Komunikasi Politik

Iklan
3 Komentar leave one →
  1. Februari 6, 2010 8:31 pm

    infonya bagus

  2. kusuma wardhani permalink
    April 17, 2010 1:42 pm

    saya izin untuk mempublikasikan ini pada bidang Media Opini LDK FT UGM
    Terima kasih

  3. Mei 18, 2010 6:13 am

    yuk kita hancurkan kafir barat penjajah.kita tegakkan khilafah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: